Sabtu, 23 April 2011

Rasulullah SAW Suritauladan yang Agung

Ia menambal sandalnya, menambal kainnya, mengurus kepentingan keluarganya, memotong daging bersama mereka, mengaduk gandum pembuat roti bagi mereka, memberi makan untanya, memerah susu kambingnya, berangkat ke pasar dan menenteng sendiri belanjaannya, serta menyapu rumahnya. Di rumah ia lebih pemalu daripada seorang perempuan sahaya. Ia tidak meminta makanan pada keluarganya, setidaknya, ia tidak pernah menyatakan keinginan itu pada mereka. Kalau mereka berikan makanan padanya, ia makan apapaun yang mereka berikan. Tak jarang ia ambil sendiri makanan dan minumannya.


Bersamanya ada hamba sahaya lelaki dan perempuan, yang membantunya. Tiada ia meninggikan diri atas mereka, dalam hal makanan dan pakaian. Sikapnya pada mereka, tidak beda dengan keluarganya, lemah lembut dan bijaksana. Ia anjurkan anggota keluarganya untuk bersikap demikian pula.

Ia hadir pada walimah– walimah, menyambangi orang–orang sakit, dan melayat jenazah. Ia keluar ke kebun–kebun sahabatnya. Memenuhi undangan para budak dan orang–orang merdeka. Ia berjalan sendiri, tanpa pengawal, bahkan diantara musuh–musuhnya dalam kecamuk peperangan.

Ia biasa berhenti di jalan mendengarkan kesusahan rakyat kecil. Ia pergi ke rumah mereka untuk menghibur yang sedih dan menggembirakan yang patah hati. Budak yang paling hina biasa memegang tangannya, menariknya menemui tuannya untuk mendapatkan perbaikan atas perlakuan buruk atau bagi kebebasannya. Selama siang hari, ia menerima tamu–tamu dan mengurus soal–soal umum. Malam hari ia hanya tidur sebentar, sebagian besar waktunya dipergunakan untuk beribadah. Ia sayang pada orang miskin dan menghormati mereka. Salah seorang putranya meninggal di pangkuannya, di rumah pengasuhnya yang penuh asap, istri seorang pandai besi.

Di malam hari bagi orang–orang yang tidak punya rumah atau tempat berlindung, dia izinkan mereka tidur di masjid bersebelahan dengan rumahnya. Tiap malam jadi kebiasaannya untuk mengundang beberapa orang dari mereka untuk makan sederhana dengannya. Yang lain–lain menjadi tamu murid–muridnya yang utama.

Ia duduk dan makan bersama dengan orang–orang miskin. Tiada ia hinakan mereka karena kemiskinannya. Meski demikian, ia pun memelihara hubungan dengan kaum bangsawan. Ia menyambung silaturahmi, tanpa mengutamakan suatu kelompok dari lainnya, kecuali karena akhlaq mereka.

Tiada pernah sekalipun ia memboikot seseorang dengan bermasam muka, dan tiada berbicara yang sia–sia. Tidak pernah dia berucap keras apalagi kasar. Ia terima alasan dari orang–orang yang berhalangan. Ia menikmati permainan yang mubah, tiada beliau menentangnya, malah ia berlomba dengan keluarganya. Kalau seseorang meninggikan suara atasnya, sabarlah ia.

Beliau duduk bersama orang banyak, ketika mereka berbincang tentang akhirat. Ia pun bercakap–cakap tentang makanan atau minuman beserta mereka. Mereka berkata–kata tentang dunia, juga ia berada di tengah–tengah mereka. Kapan pun, kasih dan tawadhu-nya tersebar di antara para sahabatnya.

Tetapi ia akan berpaling dari pergunjingan yang sia–sia. Ia sampaikan dengan kinayah (sindiran), perihal yang tidak disukainya. Ia pemalu, tidak menatap wajah seseorang berlama – lama.

Kadang sahabatnya mendendangkan syair dihadapannya. Mereka tertawa, ia pun tersenyum. Beliau tidak menghardik, selain dari yang haram. Ia biasa memanggil anak-anak dan para sahabatnya dengan kuniah (julukan), demi memuliakan dan mengakrabkan mereka. Ia pun memberi kuniah bagi yang tidak mempunyainya, atau mengganti kuniah dengan yang lebih baik.

Para sahabatnya tidak terbiasa bangun berdiri untuk menyambutnya, karena tahu akan kebenciannya ia pada yang demikian. “Jangan kalian perlakukan aku sebagaimana orang 'ajam (non arab) mengagungkan kaisar mereka ” katanya.

Meluap rasa sayangnya pada anak–anak. Tak pernah ia lewati mereka tanpa tegur sapa penuh suka cita. Ia bermain–main bersama, memeluk, menciumi, membelai dan menggendong mereka.

Tidak pernah ia pukul seseorang dengan tangannya, kecuali dengan rasa kasihnya. Tiada sekali – kali ia menaruh dendam atas aniaya yang pernah diperbuat orang atasnya. Ia jauh dari kemarahan, dan paling mudah rela. Sikapnya terhadap musuhnya yang paling besar ditandai oleh belas kasih dan kesabaran yang mulia. Ia keras dan sangat–sangat tegas terhadap musuh–musuh negara. Tapi ejekan, hinaan, kekerasan, dan penganiayaan terhadap dirinya sendiri , semuanya dilupakan, bahkan penjahat yang paling besar pun diampuninya.

Yaa nabi salam 'alaika, yaa rasul salam 'alaika. Allahumma shalli wasllim 'alaa Muhammad………

Minggu, 20 Februari 2011

Kekerasan Dalam Rumah Tangga Terhadap Istri

Apakah anda korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) ataukah anda termasuk ke dalam anggota masyarakat yang masih awam dengan KDRT? Apapun jawabannya dan siapapun anda, sebaiknya anda tetap perlu mengetahui informasi penting ini. Akhir-akhir ini, KDRT makin marak di masyarakat, terutama KDRT yang terjadi pada istri.

Salah satu contoh kasus yang sempat marak dibicarakan adalah kasus KDRT yang dialami oleh Lisa, seorang ibu rumah tangga yang wajahnya menjadi rusak akibat disiram air keras oleh suamnya. Yang cukup mengundang pertanyaan disini adalah: "Apakah memang KDRT hanya terjadi pada istri tidak bekerja / Ibu Rumah Tangga, ataukah juga terjadi pada istri yang bekerja?" Untuk mengetahui jawabannya, simaklah pembahasan berikut.

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan oleh suami pada istrinya, sebenarnya tidak hanya terjadi pada istri yang tidak bekerja tetapi juga pada istri yang bekerja. Menurut Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, sekitar 24 juta perempuan di Indonesia mengalami kekerasan dalam rumah tangga, tetapi jumlah yang pasti belum diperoleh. Di Indonesia, pada tahun 1998 jumlah kekerasan yang terjadi pada istri yang tidak bekerja adalah 39,7 % dan 35,7 % pada istri yang bekerja.

Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Amalia dkk. pada tahun 2000 ditemukan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh suami pada istri dikarenakan adanya stereotype bahwa laki-laki itu maskulin dan perempuan feminim, selain itu, suami juga merasa frustrasi dengan penghasilan istri yang lebih tinggi. Di Indonesia sendiri, kasus kekerasan terhadap istri lebih banyak yang tidak terungkap karena adanya anggapan bahwa hal tersebut adalah masalah keluarga dan tabu apabila terungkap. Sehingga hal ini secara tidak disadari turut melanggengkan budaya kekerasan terhadap perempuan. Sungguh sangat mengenaskan bukan.

Saya hanya ingin mengatakan:

"Kalau seorang perempuan itu berdaya, maka ia akan berdaya, dan kalau perempuan itu berdaya maka ia akan menyejahterakan keluarga dan masyarakatnya"

Oleh karena itu, kasus kekerasan terhadap istri merupakan suatu kasus tersendiri yang patut menjadi perhatian masyarakat karena mengakibatkan dampak yang merugikan bagi keluarga, termasuk anak-anak.

Sabtu, 12 Februari 2011

Tidak Ada Valentine Day dalam Islam


Apa kabar sobat-sobat. Mungkin sekarang banyak diantara kalian yang hatinya lagi blomming khususnya muda-mudi. Kenapa demikian??? Beberapa hari lagi Valentine day (V-day) akan hadir di kota-kota Anda (hee....seperti artis), pasti banyak diantara kalian yang lagi mempersiapkan diri untuk menyambut hari kasih sayang itu (katanya sih). Tapi apakah kalian tahu V-day itu??? sebelum kalian ikut merayakan hari tersebut, Sobat-sobat harus mengetahui asal-muasal V-day itu. Jangan hanya ikut-ikutan jika belum mengetahui atau sekedar ikut-ikutan, nanti menyesal loh... Di bawah ini beberapa penjelasan tentang V-day;

Asal-muasal Valentine Day

Selama ini, orang mengenal Valentine sebagai suatu budaya yang lahir dari Roma dan secara perlahan-lahan menjadi budaya milik dunia, tak terkecuali Indonesia. Awalnya pada 15 Februari sekitar abad ke-4 SM diadakan festival bangsa Roma yang disebut Lupercalis untuk memuja Dewa Lupercus, dewa pelindung tanaman obat dan hasil bumi. Pada malam sebelum festival, para pemuda Roma akan mencari pasangan mereka selama festival hingga pesta Lupercalia berikutnya. Mereka saling bertukar hadiah. Para wanita akan menerima sarung tangan harum atau perhiasan mahal. Tidak jarang mereka berhubungan asmara hingga satu tahun, jatuh cinta dan akhirnya menikah. Setelah berlangsung selama 800 tahun, gereja di Roma menentang perayaan tersebut, dan belakangan uskup dari Interamna yang bernama Valentine memulai kembali kebiasaan tersebut dengan cara yang berbeda.


Latar belakangi lahirnya V-day itu?

Valentine's day atau disingkat V-day yang jatuh pada tiap tanggal 14 februari setiap tahunnya, jelas berasal dari ritual paganisme, ritual satanis, yg penuh dengan kemaksiatan. Ritual kuno ini di zaman Romawi dikenal sebagai Lupercalia Festival, dimana para pemuda pemudi diperbolehkan melakukan kemaksiatan secara bebas dimanapun mereka mau.


Dapat disimpulakan bahwa Valentine Day adalah budaya barat yang dimana pemuda dan pemudi dibebaskan untuk melakukan kemaksiatan pada perayaan itu. Budaya ini masuk ke negeri kita untuk mempropogandakan pemuda-pemudi bangsa ini agar mereka mengikuti budaya mereka, sebagaiman pernah dikatakan oleh salah seorang tokoh yahudi, "Misi Utama Kita bukanlah menjadikan kaum Muslimin beralih agama menjadi kristen atau yahudi, tapi cukuplah dengan menjauhkan mereka dari Islam....

Kita jadikan mereka sebagai generasi muda Islam yang jauh dari Islam, malas bekerja keras, suka berfoya-foya, senang dengan segala kemaksiatan, memburu kenikmatan hidup, dan orientasi hidupnya semata utk memuaskan hawa nafsunya.." (Pidato samuel Zwemmer, tokoh Yahudi, dlm Konfrensi Missi di Yerusalem, 1935)

Berarti perayaan ini (V-day) adalah salah satu perayaan yang menjadi misi orang-orang barat dalam marusak akhlak kaum muslim terutama pemuda dan pemudinya. Dalam perayaan V-day, terdapat berbagai kemaksitan di dalamnya. Maka bagi kaum muslimin haram hukumnya dalam mengucapkan selamat V-day apalagi ikut merayakannya. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh KH. Drs. Hafidz Ustman bahwa beberapa tahun terakhir ini banyak remaja yang ikut merayakan hari valentin tanpa mengetahui kisah dibalik perayaan hari valentine tersebut. Hari valentin haram dirayakan oleh umat Muslim. Karena hari valentin (valentine day) merupakan budaya non muslim sehingga secara agama umat Muslim dilarang merayakan hari valentine, selain itu hari valentine juga tidak sesuai dengan budaya kita. Demikian ungkap KH. Drs. Hafidz Utsman, ketua MUI Jawa Barat, setahun yang lalu di Bandung.


Fatwa haram hari valentin oleh MUI

MUI Bangka juga mengeluarkan fatwa haram untuk hari valentine atau hari kasih sayang yang jatuh pada tanggal 14 Februari 2010. Yubahar Hasan, ketua MUI Bangka mengatakan perayaan hari valentine tidak sesuai dengan Al Quran dan Hadist. Ia juga menambahkan, perayaan hari valentin biasanya digunakan oleh muda mudi untuk hura-hura dan melakukan tindakan negatif.
Rasulullah Saw pernah bersabda, “Kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kalian ikut memasukinya.” Para sahabat lantas bertanya, “Siapa ‘mereka’ yang baginda maksudkan itu, ya Rosululloh?” Beliau menjawab, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani”. (HR. Bukhari & Musllim).

Tapi disayangkan banyak pemuda-pemudi di Negeri kita ini yang beragama Islam banyak yang ikut serta dalam merayakan hari perayaan tersebut. Sebuah pertanyaan, apakah misi yahudi telah berhasil menjauhkan kaum muslim khususnya para pemuda-pemudinya jauh dari agama Islam, sebagaimana yang dikatakan oleh Tokoh yahudi di atas???, jawabannya ada pada tanggal 14 Februari nanti.
Sebagai penutup, saya mengutip sebuah hadist dari Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Maka sudah jelas sekali bahwa tidak ada Valentine Day dalam Islam 

Rabu, 02 Februari 2011

Tujuh Golongan Yang mendapatkan Naungan

Dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu Imam yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam keadaan beribadah kepada Allah, seorang lelaki yang hatinya selalu terikat dengan masjid, dua oarng yang saling mencintai karena Allah (berkumpul karena-Nya dan berpisah juag karena-Nya), seorang lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wnita yang mempunyai jabatan dan kecantikan, namun ia mengatakan 'sesungguhnya aku takut kepada Allah', seorang yang mengelurkan sadaqah kemudian menyembunyikannya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya, dan seorang lelaki yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri, kemudian kedua matanya basah dengan genangan air mata (HR. Bukhari).
Itulah tujuh golongan yang mendapatkan naungan dari Allah WST disaat tidak ada sama sekali naungan selain naungan-Nya. Kita berada di golongan mana???

Rabu, 05 Januari 2011

Awas, Miras Bisa Jadi Penyebab KDRT


Minuman keras (miras) yang berlebihan merupakan salah satu pemicu utama munculnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Papua. Hal itu dikatakan aktivis perempuan Papua yang juga staf Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak Papua (LP3AP) Anita Waibro, di Jayapura, Minggu (14/6).

Anita mengungkapkan dari laporan masyarakat dan kasus yang ditangani LP3AP sebagai lembaga Advokasi perempuan dan anak, sebagian besar kasus KDRT yang terjadi disebabkan suami dalam keadaan mabuk miras kemudian menyakiti pasangannya. "Misalnya jika ada 10 laporan KDRT, maka sekitar tujuh sampai delapan kasus yang penyebabnya adalah karena pengaruh miras," katanya.

Anita menambahkan, melihat dari tingkat pengonsumsian miras di Papua khususnya di Kota Jayapura yang semakin tinggi, dikhawatirkan angka KDRT akan terus meningkat. "Kami selalu meminta kepada pemerintah daerah untuk membatasi peredaran miras, karena punya dampak yang besar bagi orang yang mengonsumsi maupun lingkungan sekitarnya," ujarnya.

Faktor pemicu KDRT lainnya yakni ekonomi keluarga yang kurang sejahtera. Apabila tidak ada saling pengertian antara pasangan, maka berpeluang menimbulkan emosi yang berujung pada KDRT. "Apalagi ditambah dengan rendahnya tingkat pendidikan dari pasangan itu sendiri," terang Anita.

Sebenarnya pemerintah sendiri sudah mengeluarkan aturan hukum yang bisa menjerat pelaku KDRT, seperti Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Namun, kendala yang terbesar dalam menuntaskan suatu masalah KDRT melalui jalur hukum, biasanya korban KDRT mencabut delik aduan yang telah dilaporkan pada pihak kepolisian, dengan alasan akan diselesaikan secara kekeluargaan.

Harus diingat KDRT sebenarnya tidak hanya kekerasan terhadap fisik tetapi juga psikis, yang cenderung menimpa perempuan dan anak, hanya saja kondisi budaya patriarki menganggap hal tersebut sebagai masalah biasa," tambah Anita.

Menghadapi Suami Yang Penguasa

Kali ini saya ingin membahas tentang bagaimana bagi kaum wanita dalam menghadapi suami penguasa, hal ini dikarenakan dalam sebuah pernikahan, kadang perempuan dihadapkan dengan suami yang suka mengatur, otoriter, dan ingin menang sendiri. Bagaimana menghadapi kondisi seperti ini ?

Harus disadari bahwa pernikahan adalah bertemunya dua anak manusia yang awalnya tidak saling kenal, berbeda karakter, berbeda latar belakang, bahkan berbeda pendapatan. Nah, dalam pernikahan semua perbedaan diupayakan untuk menyatu dalam satu tujuan yang sakinah, mawaddah, warahmah (tenang dan saling kasih sayang).

Bagaimana kalau kebetulan suami kita termasuk laki-laki yang berkarakter suka mengatur, sok berkuasa dan otoriter ? Apa yang harus kita lakukan ? Haruskah kita membatalkan pernikahan ?

Menurut beberapa ahli ada beberapa faktor penyebab mengapa suami ingin menjadi penguasa dalam keluarga. “Banyak faktor yang membuat suami ingin berkuasa atau menang sendiri. Itu harus kita ketahui agar rumah tangga kita bisa terselamatkan.

Faktor Ekonomi

Istri yang tidak bekerja sangat tergantung keberadaan suami, karena itu istri merasa takut untuk menolak keinginan suami. Tingkat ekonomi yang berbeda inilah bisa menjadi sumber mengapa suami menjadi penguasa dalam rumah tangga. “Dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa suami yang berkarier dan perempuan tidak bekerja memiliki power yang lebih tinggi dari pada keduanya bekerja.

Peran Gender

Dalam masyarakat, sejak awal laki-laki memang diperankan sebagai penguasai terhadap perempuan. Dukungan masyarakat menjadi legitimasi bagi suami untuk berkuasa. “Bahwa perempuan identik dengan feminin dan laki-laki adalah maskulin.

Budaya Patriaki

Budaya yang mengamsumsikan bahwa laki-laki adalah sebagai kepala rumah tangga, mengilhami suami untuk tidak memberikan kesempetan pada perempuan untuk mengambil keputusan. “Jadi dalam hal ini, suami seolah segalanya bagi keluarga dan di pundaknya semia beban keluarga dipikul. Semua keputusan yang berkaitan dengan keluarga, di yang menentukan.

Dua Keputusan

Ada dua hal yang harus dipertimbangkan ketika menerima keputusan suami. Pertama, jika keputusan suamii memberikan manfaat dan bersifat positif, tidak ada salahnya untuk menerima. Kedua, jika keptusan suami berdampak negatif bagi keluarga, lebih baik tidak dilaksanakan namun dengan cara yang baik sehingga tidak menyinggung perasaan suami. Tipe suami penguasa (husband dominant type) dapat dilihat dari pendapatnya yang ingin diakui. Bagi suami yang penguasa, apa pun pendapat yang berkaitan dengan keputusan yang diambil cenderung dianggap paling benar dan merasa beranggung jawab (responsibility). Suami merasa bahwa tanggung jawab keluarga adalah tanggung jawabnya, maka semua keputusan dia yang memutuskan. Padahal tanggung jawab keluarga bukan hanya milik suami, namun semua anggota keluarga.

Tidak Melawan

Dalam menghadapi suami yang memiliki karakter penguasa dalam rumah tangga, istri tidak perlu mengadakan perlawanan. Istri harus menerima. Dan menerima bukan berarti kalah. Namun ini dilakukan untuk menghindari konflik dalam rumah tangga yang dapat berujung pada keutuhan keluarga. Kemudian sebisa mungkin menghindari pertengkaran. Jika keputusan itu tidak terlalu penting, sebaiknya istri dapat mengikuti irama suami. Namun bila tidak diupayakan untuk melakukan tawaran ide. Selanjutnya tentukan waktu yang tepat untuk mengajak suami berdiskusi bersama, kemukakan bahwa anda keberatan dengan sikapnya.

Kemiskinan menjadi penyebab utama KDRT


KEMISKINAN menjadi penyebab utama Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Selain kebutuhan hidup atau motif ekonomi, KDRT j uga disebabkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP dan PA) Emmy Rachmawati.

Motif ekonomi dan kebutuhan hidup menjadi ha! yang paling menonjol sebagai penyebab banyaknya terjadi kekerasan dalam rumah tangga, baik terhadap perempuan, anak dan suami. Selain itu, faktor ketidakharmonisan dalam rumah tangga yang bukan hanya disebabkan perselingkuhan, tetapi bisa ketidakcocokkan atau kesalah fahaman antara suami dan istri, juga menjadi faktor penyebab yang kedua.

Trend saat ini kasus KDRT bukan meningkat, tetapi masyarakat semakin terbuka untuk melaporkan kasusnya yang semula dianggap suatu aib rumah tangga." kata Emmy usai menghadiri pelantikan pengurus Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Banten di Serang, kemarin. Saat ini masyarakat khususnya perempuan semakin terbuka untuk melaporkan berbagai kasus yang dialaminya dalam rumah tangga, baik berupa kekerasan fisik, psikis maupun kekerasan lain yang dialami perempuan maupun anak.Dengan semakin banyaknya orang yang melaporkan tersebut, ada anggapan bahwa kasus KDRT meningkat.

Saat ini perempuan semakin berani melaporkan kasusnya, karena itu dianggap melanggar hak azasi manusia yang merugikan kaum perempuan," katanya tanpa menyebutkan berapa kasus KDRT yang terjadi di Indonesia saat ini.

Kelua P2TP2A Provinsi Banten Ade Rossi Haerunisa mengatakan, saat ini ada kecenderungan kasus KDRT di Banten semakin meningkat, hal tersebut sesuai dengan angka kasus KDRT yang ditangani P2TP2A Provinsi Banten dari Tahun 2008 hingga 2010 se-banyak 59 kasus.

Dari 59 kasus yang ditangani P2TP2A Provinsi Banten, terdiri dari 33 kasus KDRT. 11 kasus perdagangan manusia (trafficking) dan 15 kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur."Sebagian besar kasus tersebut bisa diselesaikan oleh P2TP2A Banten. Untuk Itu. diperlukan adanya kerja keras dan penguatan SDM pengurus, seiring dengan meningkatnya kasus tersebut," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, P2TP2A Provinsi Banten Juga meluncurkan program Telepon-Sahabat Anak fresa) 129. sebagai salah satu media komunikasi dan konsultasi anak untuk menyampaikan berbagai keluhan yang terkait dengan perlindungan anak dan mengatasi permasalahan kekerasan dalam rumah tangga.

Dengan Tesa tersebut, anak dibawah umur 18 tahun bisa menyampaikan konsultasi yang terkait dengan permasalahan kekerasan dalam rumah tangga atau pengaduan terhadap orang tuanya melalui telepon bebas pulsa ke nomor 129. Masih memprihatinkan Sebelumnya Antam memberitakan kehidupan sebagian perempuan di Nusa Tenggara Barat masih memprihatinkan terutama di wilayah pedesaan karena mereka hanya mengetahui kewajiban dan kurang memahami hak-haknya terutama yang berstatus sebagai istri.

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Tim Penggerak PKK Provinsi NTB Ny Fauzan Djufri di Mataram, kemarin mengatakan selama ini sebagian perempuan di daerah ini memiliki kedudukan yang lemah dalam keluarga. "Mereka hanya bisa pasrah atas perlakuan suami yang tidak jarang istri menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)," katanya

Selain itu tidak sedikit perempuan yang dijadikan "modal" oleh suaminya, mereka rela disuruh bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) kemudian hasil Jerih payahnya menjadi pembantu rumah tangga di Arab Saudi digunakan untuk membeli sepeda motor bahkan dipakai kawin lagi/

Ketika pulang dari Arab Saudi ada yang diceraikan oleh suaminya setelah uang hasil jerih payahnya menjadi PRT dihabiskan untuk berfoya-foya oleh suaminya. Kendati mendapat perkuan yang tidak adil mereka hanya bisa pasrah," katanya. Menurut Fauzah ini disebabkan sebagian perempuan di NTB belum memahami haknya sebagai istri, karena itu mereka perlu diberikan pemahaman agar bisa bersikap tegas Jika mendapat perlakuan tidak adil dari suami.

Ia mengatakan dalam upaya meningkatkan kualitas SDM para perempuan di NTB. TP PKK terus memberikan advokasi antara lain memberikan pelatihan di sejumlah desa binaan. ( Agus Sutondo Media Center )