Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Februari 2014

Kisah dokter muda, sehari tangani ratusan korban letusan Kelud



Kisah dokter muda, sehari tangani ratusan korban letusan Kelud
dokter bertha. ©facebook.com/bertha cahyapuri
Merdeka.com - Siapa yang tak tergerak hatinya melihat ribuan korban letusan Gunung Kelud menderita? Berada di pengungsian yang minim fasilitas, apalagi rumah tempat tinggal rusak parah akibat terjangan debu vulkanik Gunung Kelud, adalah sekelumit kisah penderitaan para korban bencana gunung yang terletak di Kabupaten Kediri, Jawa Timur tersebut.

Terdorong oleh semangat membantu sesama, apalagi mendapatkan tugas dari kantor tempat bekerja, menjadikan dokter Bertha Cahyapuri, dokter muda asal Surabaya ini datang ke lereng Kelud untuk membantu warga yang terkena dampak letusan Kelud. Meski rasa takut menghampiri, namun demi kemanusiaan dan profesi, akhirnya rasa takut itu dikesampingkan.

"Pasti ada takutnya, tapi Bismillah saja," tutur dokter Bertha kepada merdeka.com, Senin (17/2) malam.

Bertha menceritakan, sehari dia bisa sampai menangani pasien lebih dari 100 orang. Bahkan hari sebelumnya ada sekitar 160-an pasien yang ditangani. Semua adalah warga lereng Gunung Kelud yang menderita berbagai penyakit.

"Sehari kuranglebih 100 pasien, kemarin 160 pasien. Total sampai saat ini 522 pasien," ungkap Bertha yang mengaku lembaga tempat dia bekerja sudah berada di lereng Kelud sejak Sabtu (15/2), atau sehari setelah Gunung Kelud erupsi.

Para pengungsi letusan Gunung Kelud menurut alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya itu rata-rata menderita penyakit flu, pilek, dan sesak nafas akibat menghirup abu vulkanik Gunung Kelud.

"Banyak juga yang naik tensinya karena mikir rumahnya pada ambles," imbuh wanita berjilbab tersebut.

Dia menambahkan, menangani ratusan pasien saban hari hanya ditangani satu dokter saja, dibantu dua perawat, satu apoteker dan seorang driver. "Tiap hari timnya ganti," kata wanita yang kini bekerja di Rumah Sehat Baznas-PGN Al Chusnaini, Surabaya ini menambahkan.

Bagi Bertha, menolong pasien yang sedang kena musibah bencana alam, selain memang diutus oleh kantornya, juga bisa jadi pengalaman hidup. Tiada kebahagiaan yang hakiki kecuali bisa meringankan beban sesama.

Bagi siapa saja yang hendak berobat gratis, silakan datang ke Balai Desa Keling, Kediri. Dokter Bertha dan tim siap melayani pasien secara cuma-cuma.

Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-dokter-muda-sehari-tangani-ratusan-korban-letusan-kelud.html

Minggu, 16 Februari 2014

Komposer India Ini Masuk Islam

Mualaf (ilustrasi).
Mualaf (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Putra direktur musik legendaris India Illayaraaja, Yuvan Shankar Raja, memutuskan untuk masuk Islam. Ia mengumumkan hal tersebut melalui laman Twitter miliknya.
"Ya, saya telah masuk Islam dan saya bangga akan itu," tulisnya dalam akun twitter miliknya, seperti dilansir Times of India, Selasa (11/2).

Ia mengatakan, keluarganya mendukung keputusan Raja untuk mengikuti ajaran Islam. Tidak ada kesalahpahaman dengan keluarganya tentang keinginannya tersebut.

Seorang sumber yang dekat dengan Raja mengatakan, ia telah belajar banyak tentang Islam selama hampir satu tahun. Raja juga telah belajar shalat lima waktu selama berbulan-bulan.

Saat ini, dia siap untuk mengucapkan dua kalimat syahadat."Dia sudah siap untuk masuk Islam dan mengubah namanya. Tapi ia belum memutuskan ini," ujar sumber tersebut.

Karena keputusan ini merni keinginan pribadi, keluarga Raja tidak keberatan. Raja adalah seorang penulis lagu dan komposer asal India. Dia adalah anak termuda komposer legendaris India, Ilaiyaraaja. Ia memulai karirnya pada 1996 ketika masih berusia 16 tahun.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/14/02/11/n0ssfs-komposer-india-ini-masuk-islam

Kisah Rasulullah Menenangkan Gunung yang Berguncang

Gunung Uhud
Gunung, adalah juga makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan, gunung adalah makhluk yang tak pernah durhaka kepada Allah. Dalam Al Qur’an, gunung dikisahkan enggan menerima amanah Allah, sebab ia khawatir tidak sanggup menjalankannya.

Di zaman Rasulullah, pernah ada gunung yang berguncang. Kisah itu diriwayatkan Imam Bukhari dalam shahih-nya.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَعِدَ أُحُدًا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ بِهِمْ فَقَالَ اثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendaki gunung Uhud, diikuti oleh Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman. Lalu gunung Uhud itu bergetar, maka beliau bersabda: "Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu sekarang ada Nabi, Asshiddiq (orang yang jujur, maksudnya Abu Bakar) dan dua orang (yang akan mati) syahid". (HR. Bukhari)

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad.

Dalam buku “Percikan Sains dalam Al Qur’an; Menggali Inspirasi Ilmiah” dijelaskan bahwa setelah Rasulullah berbicara kepada gunung itu, maka gempa itu pun berhenti. Subhanallah... inilah mukjizat Nabi.

Dalam hadits yang lain disebutkan isyarat Rasulullah tentang interaksi manusia dan gunung. Sebagai sesama makhluk.

هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ
"Ini adalah gunung yang mencintai kami dan kamipun mencintainya." (HR. Bukhari)

Kecintaan kepada gunung bisa dilakukan dengan pendekatan ilmiah dan pendekatan tauhid. Pendekatan ilmiah adalah berinteraksi dengan gunung tanpa melakukan hal-hal yang merusak dan menghancurkannya. Yakni tidak melakukan penebangan liar dan menggunduli hutan yang ada di gunung. Tidak menambang tanpa memperhatikan kesimbangan dan batas-batasnya. Juga dengan menjaga ekosistem yang ada dalam gunung tersebut.

Berinteraksi dengan pendekatan tauhid artinya mendudukkannya sebagai makhluk Allah, tidak menjadikannya sebagai sarana menyekutukan Allah. Tidak menjadikan gunung sebagai tempat maksiat. Jika gunung tunduk kepada Allah dengan caranya sendiri, manusia pun harus tunduk kepada Allah sebagaimana syariat Islam telah diturunkan kepadanya. Amanah yang tidak sanggup dipikul gunung telah diterima oleh manusia, maka manusia harus menjalankan amanah tersebut sebagai hamba dan khalifah Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi, yang juga bertugas memakmurkan bumi termasuk gunung di dalamnya. [IK/bersamadakwah]
Sumber : http://www.bersamadakwah.com/2014/02/kisah-rasulullah-menenangkan-gunung.html

Menikah Lantaran Bersin

ilustrasi menikah
Menikah selalu menjadi tema menarik untuk diperbincangkan di berbagai situasi. Karena menikah merupakan satu dari sekian banyak ekspresi cinta dalam beribadah kepada Sang Maha Menciptakan. Di mana semua kisah tentang cinta, akan selalu hangat jika dibahas dari sudut pandang manapun.

Sederhananya, silahkan bertanya kepada bapak atau ibu anda tentang awal mula mereka berkenalan, hingga kemudan memutuskan menikah. Yang ditanya, pasti berbinar sumringah ketika hendak memulai kisahnya. Jangan berhenti, lanjutkan pertanyaan tentang alasan apa yang menguatkan bapak anda sehingga meminang calon istrinya yang kini menjadi ibu bagi anda. Lalu, tanyakan pula kepada ibu, apa yang menjadi alasan bagi ibu sehingga dengan mantap menerima pinangan bapak anda.

Jika bapak atau ibu kita dahulu, tidak terlalu berbelit dan banyak kriteria terhadap calon istrinya, pun dengan ibu anda yang tak muluk-muluk mengharapkan pangeran dambaan jiwanya, maka di zaman kita ini, hal-hal seperti itu sangat jarang dijumpai.

Entah dari mana mulanya, banyak diantara kita yang banyak menerapkan syarat-syarat aneh tak berdalil dalam mematok calon pasangan hidup kita. Misalnya saja, seorang ibu yang mensyaratkan agar anak laki-lakinya mencari istri yang tinggi badannya, minimal sama dengan tinggi badan anaknya yang 170 cm. Ini mau memilih menantu atau pasukan pengibar bendera?

Atau misalnya, seorang pemuda yang selalu menjadikan wajah sebagai satu-satunya acuan dalam meminang. Jika putih, mengkilap dan mirip artis, barulah diterima. Padahal, agamanya tak menjamin keshalihannya. Namun, ketika yang disodorkan adalah wanita sholihah, dengan jilbab terjuntai, paras teduh bekas wudhu dan menunduk ketika memandang, juga sekian banyak kebaikan yang ia miliki, hanya karena wajah yang agak hitam lantaran rajin melakukan jaulah dakwah, serta merta, wanita sholikhah ini ditolak sebelum dilirik.

Mari, sedikit bernostalgia. Kembali ke tahun 90-an. Di mana ketika itu, dakwah mulai menggeliat di negeri kita ini. Di zaman itu, keshalihan menjadi sangat langka namun dibanggakan oleh penganutnya. Sehingga, keshalihan itu terwujud dalam tiap jenak. Baik itu fisik, pakaian, maupun laku. Hal ini dilengkapi dengan munculnya sosok-sosok berani yang bersemangat dalam menyempurnakan Islam sebagai agamanya. Tanpa berbelit, tanpa banyak alasan, dan sedikit syarat kecuali sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah yang mulia.

Ini kisah nyata, sebut saja namanya Andri. Dalam sebuah perjalanan pulang dari Jakarta ke Semarang menggunakan kereta api, dia ditakdirkan berhadapan tempat duduknya dengan seorang akhwat bernama Andriyani (bukan nama sebenarnya).

Menjelang sampai di Kota Lumpia itu, Andri ditakdirkan oleh Allah untuk bersin, “Haccccciiii...” Serta merta, lantaran gemblengan Islam yang selama ini ia peroleh dan semangat untuk mengamalkannya, lelaki muda ini berucap, “Alhamdulillah..” sebagaimana disunnahkan oleh Nabi. Tak disangka, tak dinyana, perempuan di hadapannya itu menyahut, sebagaimana disunnahkan oleh Nabi ketika mendengarkan orang yang bersin, “yarhamukallah.” Keduanya kemudian saling melirik sebelum akhirnya menundukkan pandangannya masing-masing. Dengan rasa yang tak biasa, Andri kembali menjawab doa yang dilantunkan wanita itu, “yahdikumullah.”

Peristiwa pengamalan sunnah ini terjadi begitu saja. Hingga akhirnya, mereka sampai di stasiun pemberhentian terakhir. Entah apa yang mendorong Andri, ia kemudian memberanikan dirinya untuk menanyakan nama bapak dan alamat perempuan yang menjawab bersinnya dengan doa yang disunnahkan nabi itu.

Bukankah ini hal yang aneh? Jika muda-mudi zaman sekarang, yang ditanya pasti nama, nomor hand phone, akun jejeraing sosial, dan seterusnya. Namun, Andri justru menanyakan nama bapak dan alamatnya.

Keduanya pun berpisah. Dengan tetap saling menundukkan pandangan untuk menguasai hatinya masing-masing. Hingga akhirnya, waktu berjalan beberapa bulan kemudian.

Andri membawa orang tuanya untuk mencari alamat orang tua perempuan yang berhasil menarik hatinya itu. Berbekal nama dan alamat yang diberikan, meski dengan sedikit kesulitan, akhirnya ditemukanlah apa yang mereka cari.

Yang ditamui, kaget bukan kepalang. Seperti ketiban durian runtuh. Disilaturahimi keluarga asing yang langsung mengenalkan diri dengan penuh keakraban. Kebahagiaan bertambah ketika orang tua Andri berkata, “Jadi, maksud kedatangan kami adalah untuk menjalin silaturahim.” Yang punya rumah mengangguk bahagia, dengan senym sumringah.

Tamu yang baru dikenal itu, kemudian melanjutkan penyampaian misinya, “Di samping itu, kami hendak melamar anak bapak untuk anak kami,” sembari menunjuk ke arah anaknya, Andri. Tuan rumah, langsung tercekat. Bingung, haru, bercampur bahagia tak terlukis.

Perbincanganpun kemudian berlanjut dengan kisah cinta yang bersemi di kereta api Jakarta-Semarang bersebab bersinnya Andri. Kedua keluarga itu akhirnya terlibat dalam perbincangan seru, penuh kehangatan dan sarat makna. Yang tak kalah mengejutkan, perempuan shalihah berjilbab rapi itu langsung menerima lamaran lelaki yang datang secara kstaria bersama keluarganya itu.

Akhirnya, keduanya mengikat tali suci bernama pernikahan. Hingga saat ini, keduanya bahagia dengan pilihannya. Bahwa mereka memilih menjaga kesucian dengan menikah. Dengan cara seksama, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Andri, memutuskan memilih Andriyani lantaran ciri keshalihan yang dia temui pada diri wanita itu saat berjumpa di kereta api, pada pertemuan yang hanya sekali itu. Dan Andriyani, menerima lamaran lelaki itu, lantaran ia mengucap hamdalah saat bersin, dan itu satu diantara sekian banyaknya ciri keshalihan. Di samping itu, keberanian diri Andri bersama keluarganya untuk langsung datang ke rumah orang tuanya, merupakan bukti keshalihan lain yang bermakna keseriusan. Andri berani memutuskan untuk memilih demi menjaga kesucian hati, berani melangkah untuk menggapai barokah walimah.

Semoga, Allah hadirkan di zaman kita ini, laki-laki shalih semacam Andri, juga wanita-wanita baik hati semacam Andriyani. Bahkan, lebih baik dari keduanya. Aamiin. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com


*http://www.bersamadakwah.com/2014/02/menikah-lantaran-bersin.html

Sabtu, 15 Februari 2014

Mimpi Shalat, Bos PT Sritex Memeluk Islam

Muhammad Lukminto (foto Tempo)
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Telah berpulang ke rahmatullah, pengusaha dan pendiri PT Sri Rejeki Isman Textile (Sritex), Muhammad Lukminto, pada hari Rabu, 5 Februari 2014 di Singapura. Beliau meninggalkan satu istri dan lima anak.

PT Sritex sendiri merupakan salah satu pabrik tekstil terbesar di Asia yang berlokasi di Sukoharjo Jawa Tengah.

Muhammad Lukminto menjadi mualaf pada 1994 lalu. Kisah masuk Islamnya yang unik telah ditulis dalam buku “Saya Memilih Islam” terbitan Gema Insani Pers.

“Sebagian besar karyawan saya beragama Islam,” kata Muhammad Lukminto dalam buku yang disusun oleh Abdul Baqier Zein tersebut, “Sering saya saksikan, di sela-sela waktu istirahat makan siang, mereka tak lupa menunaikan sembahyang (belakangan saya tahu itu disebut shalat). Meskipun waktu itu di pabrik ada tempat khusus untuk shalat (mushala atau masjid), namun mereka tetap mendirikan shalat di beberapa tempat seperti di gudang dan di lorong-lorong pabrik.”

“Sering saya amati, usai shalat wajah mereka tampak begitu cerah. Seakan terpancar dari jiwa mereka yang tenang. Padahal saya tahu pasti, gaji mereka tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kekayaan yang saya miliki. Suatu kali, secara iseng pernah saya tanyakan kepada salah seorang karyawan, mengapa mereka begitu disiplin melaksanakan shalat.”

Jawaban karyawan tersebut membuat Muhammad Lukminto terkejut. "Kami shalat sernata-mata untuk mencari keridhaan Allah, sebab hidup di dunia hanya sementara. Ada kehidupan yang kekal di akhirat kelak, yang harus kami persiapkan sebelum mati," jawab mereka.

Muhammad Lukminto yang tidak pernah berpikir tentang mati, sejauh itu hanya tahu bahwa kematian itu hanyalah akhir dari kehidupan. Dari para karyawannya yang muslim ia mendapatkan informasi, kematian adalah pintu atau jalan antara untuk menuju alam lain yang disebut akhirat, di mana segala perbuatan manusia akan diperhitungkan sesuai baik-buruknya.

“Mengingat itu semua, bulu kuduk saya berdiri. Sungguh, saya amat takut menghadapi kematian dalam keadaan saya yang bergelimang dosa,” tuturnya.

Sejak itu, Muhammad Lukminto jadi pendiam. Ia jadi lebih suka merenung dan berpikir tentang dirinya saya sendiri. Ia juga mulai suka mengikuti siaran Mimbar Agama Islam yang ditayangkan TVRI setiap Kamis malam.

Hingga tibalah malam itu. 10 Januari 1994 bertepatan malam 27 Rajab (Isra Mikraj). Muhammad Lukminto bermalam di vilanya yang di daerah Tawangmangu (Solo). Dalam tidurnya ia bermimpi diberikan sehelai sajadah oleh teman karibnya, lalu disuruh melaksanakan shalat.

"Saya nggak bisa shalat," jawab Muhammad Lukminto. Lalu, sang teman memberi contoh bagaimana caranya shalat.

“Setelah paham, saya pun disuruh mengulangi gerakan shalat yang ia peragakan,” kenangnya, “Lalu, saya pun shalat. Tapi, baru separo jalan, saya pun terjaga. Temyata, itu hanya mimpi.”

Sejak bermimpi seperti itu, Muhammad Lukminto jadi gelisah. Istrinya pun sempat bingung melihat dirinya. Tapi Muhammad Lukminto tak menceritakan mimpi itu kepadanya. Untuk beberapa waktu lamanya, mimpi itu hanya menjadi rahasia pribadi.

“Tapi lama-lama saya tak tahan juga untuk tidak bercerita,” lanjutnya.

“Kebetulan, saya mempunyai tukang pijat pribadi, namanya Pak Edi. la seorang muslim yang taat. Ketika pada suatu malam saya minta dipijat olehnya, saya ceritakanlah mimpi itu kepadanya. Mendengar cerita mimpi saya itu, Pak Edi spontan bergumam, "Subhanallah, insya Allah tak lama lagi Bapak akan masuk Islam," katanya mantap. "Benarkah?" tanya Saya. "Insya Allah," jawabnya pasti.”

Sejak itu, Edi mulai membimbingnya untuk melaksanakan shalat. Muhammad Lukminto pun mengikuti sarannya untuk berkhitan. Tapi itu semua dilakukannya secara sembunyi-sembunyi. Ia dikhitan di Jakarta. Dan ketika masuk bulan suci Ramadhan, Muhammad Lukminto pun ikut melaksanakan ibadah puasa dan mengeluarkan zakat (mal).

“Karena sudah merasa mantap dengan pilihan hati saya itu, Pak Edi menyarankan agar keislaman saya itu harus segera diproklamirkan. Alasannya, agar semua orang tahu bahwa saya sudah muslim. Sarannya itu pun saya terima” tambahnya.

Singkat cerita, pada tanggal 11 Maret 1994 bertepatan dengan peringatan Supersemar, Muhammad Lukminto mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat di hadapan umat Islam dan karyawan PT Sritex, dibimbing oleh pimpinan Pondok Pesantren al-Mukmin, Ngruki, Ustadz H. Moh. Amir, S.H.


Lukminto telah berpulang. Semoga amalnya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Kita, wajib mengambil pelajaran dari kisah berharga ini. Agar kelak, bisa mati dalam keadaan Islam. Allahummaghfirlahu war hamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu. [Pirman]

Sumber : http://www.bersamadakwah.com/2014/02/mimpi-shalat-bos-pt-sritex-memeluk-islam.html

Kamis, 09 Januari 2014

Kisah Cinta Romantis dari Bersin Mendapat Jodoh

Kisah Bersin Mendatangkan Jodoh


Kisah ini saya ambil dari seorang ikhwan yang juga sahabat saya semoga allah menjaganya.
kisah cinta romantis
Sumber gambar: google.com
Di sebuah bis yang melaju dengan kencang, di antara penumpang yang berjejal-jejalan ada seorang bapak-bapak yang bersahaja. Si bapak pada waktu itu beruntung karena beliau mendapat tempat duduk yang nyaman, berbeda dengan penumpang yang lain, mereka harus berdiri dengan penatnya. Meski mereka berkumpul, tapi hati mereka sendiri-sendiri, karena mereka naik bis juga dengan tujuan masing-masing atau dengan kata lain mereka saling cuek. Jadi mereka hanya diam membisu mendengar dentuman mesin bis yang memecah kebisingan.

Hawa yang sangat panas dan pengap di bis tersebut, sang bapak ini terlihat dari awal menutup hidungnya, sebagian penumpang hanya sesekali melirik sang bapak yang mengusap-usap hidungnya yang sedikit mbeler.. tiba-tiba dia bersin dengan kerasnya “ hwaajing!!! ….Alhamdulillah !! “ Doa sang bapak dengan bersinnya. Tapi mereka para penumpang tak menghiraukannya..

“ YARHAMUKALLAH” ada satu suara menyahut di antara penumpang yang berdiri. “ YAHDIKUMULLAH!!” jawab sang bapak dengan agak serak-serak basah…

Sungguh sang bapak menjadi trenyuh dan salut dengan suara tadi,” kok di jaman yang makin edan ini masih ada seseorang yang mengamalkan doa bersin yang disunnah nabi.. “sungguh amat jarang sunnah nabi yang ketika orang bersin lalu berdoa dan yang mendengar ikut juga mendoakan ” batin sang bapak.

Lalu di carilah sumber suara tadi..” Mana ya orang yang mengucapkan doa yarhamukallah tadi ?” sang bapak sambil kepalanya menjulur ke kanan dan ke kiri mencari tau orang yang di maksud.
“ Oooh itu dia orangnya!! Subhanallah!! Ternyata dia seorang pemuda ” lalu di hafalnya wajah tersebut.

Bis yang dari tadi melaju dengan tenangnya tiba-tiba melambatkan kecepatannya,,”srrtttt…. criiit “ suara rem Bis.

Ternyata pemuda yang tadi mengucapkan “ Yarhamukallah” itu turun. Tapi dengan serta merta mata sang bapak yang dari kejadian tersebut selalu mengawasi gerak gerik sang pemuda tiba-tiba juga merespon untuk turun juga, padahal sang bapak dari semula berbeda arah tujuan bis.

Akhirnya sang bapak dengan tergopoh-gopoh menguntit dan menyusul sang pemuda tersebut..

“ tunggu anak muda!!” teriak sang bapak dengan maksud agak pemuda ini berhenti..

“ ada apa pak?” jawab sang pemuda dengan sopannya.

“ Ananda mau kemana? “ bisakah kita ngobrol2 sebentar?” potong sang bapak.

“ Iya pak..mungkin ada yg bisa saya bantu?”

Akhirnya terjadilah perkenalan diantara mereka, dan terjadi keakraban. Tidak lupa bapak tersebut juga saling bertanya tentang perihal sang pemuda,

Perkenalan yang singkat tapi penuh makna. Merekapun akhirnya berpisah, sang bapak bisa sedikit tau si pemuda, dia anak yang sholeh insyaallah.

Beberapa minggu kemudian sang pemuda memenuhi undangan sang bapak ke rumahnya…

Tahukah kalian temen-temenku pemuda tersebut datang ke rumah si bapak?

Ternyata sang bapak bermaksud hendak menjodohkan putrinya dengan pemuda ini..

Karena sang bapak percaya bahwa pemuda ini mempunyai akhlaq yang sholeh

Llihatlah teman!! ketika pada masa ini banyak manusia yang kehilangan kehormatan agamanya tapi pemuda ini dengan penuh percaya diri mengamalkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam yang sudah asing di mata umat ini. Amalan yang ringan tapi Allah mendatangkan rizqi berupa jodoh pada pemuda ini. Subhanallah.

Wallahu a’lam

Rabu, 08 Januari 2014

Organisasi Islam Hancur Karena Penyusup

Hancur karena Penyusup


Catatan ini sebenarnya lanjutan dari status saya yang berjudul "Dari Pergerakan Ekonomi Menuju Pergerakan Politik". Tapi tidak apa-apa jika saya memberi judul "Hancur Karena Penyusup"
organisasi islam

Lahirnya perkumpulan dan organisasi biasanya didasari oleh kepentingan-kepentingan, orang-orang yang mempunyai satu tujuan, satu misi kemudian mengangkat sebuah pemimpin sebagai motor penggerak. Dan setiap perkumpulan akan diawali oleh generasi perintis.

Biasanya kebanyakan generasi perintis lebih banyak berkorban untuk kemajuan perkumpulannya, dia punya opsesi membesarkan perkumpulannya agar diterima oleh masyarakat. Harta waktu, pemikiran tenaga tercurah disana.

Inilah dia kisah perjuangan kakek2 kita mendirikan Sarekat Islam, organisasi politik pertama di Indonesia jauh sebelum berdirinya organisasi orang2 liberal.

Sarekat Islam sebelumnya bernama Sarekat Dagang Islam yang didirkan oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada 16 Oktober 1905. Asas pertama kali dibentuknya SDI ini adalah untuk memajukan Ekonomi umat islam yang padawaktu itu tertinggal jauh oleh pedagang2 china (bahkan sampai sekarang Indonesia di kangkangi).

Berkat keuletan para pengurus dan rasa memiliki anggota untuk kemajuan umat SDI mampu membuat korwil-korwil di setiap daerah dan gaung pengaruhnya terdengar di Indonesia.

kemudian munculnya tokoh tangan dingin H.O.S. Tjokroaminoto, SDI menjadi besar dan dirubahlah namanya menjadi SI (sarekat Islam). Kinerja SI diperluas tidak hanya pada gerakan ekonomi tapi harus eksekusi kebijakan untuk kemaslahan rakyat Indonesia dengan menjadi gerakan politik.

:: Penyusup itu Menghancurkan SI ::

Revolusi Rusia dengan paham komunisme mulai menyebar dibeberapa negara Asia, salah satunya Indonesia. Paham ini sengaja di Import oleh belanda pada waktu itu untuk disusupkan pada orang-orang SI.

Akhirnya muncullah tokoh-tokoh SI yang terpengaruh komunisme iatu Semaoen, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin Prawirodirdjo. Hal ini menyebabkan SI pecah menjadi "SI Putih" yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto yang bermarkas di Yogyakarta dan "SI Merah" yang dipimpin Semaoen yang bermarkas di Semarang. Tentu saja SI merah berlandaskan asas sosialisme-komunisme.

Perpecahan ini tidak bisa dipungkiri dan melemahkan kerja SI, tidak mungkin menyatukan ideologi berbeda. Walau ada sebagian tokoh yang ingin melerai kelompok ini tapi tetap saja tidak bisa.

Konfrontasi perang urat saraf 2 kelompok ini menjadi-jadi. Akhirnya SI yang anggotanya mempunyai background bermacam2 dari Muhamadiyah, Persis dll mengambil kebijakan bahwa setiap anggota tidak boleh rangkap anggota dg organisasi lain. Tapi sayang kebijakan ini tidak berhasil karena pihak SI merah ngotot agar PKI bisa tetap masuk di SI bahkan SI Merah juga menentang pencampuran agama dan politik dalam SI

SI Putih kemudian ancang-ancang merubah namanya menjadi Partai Sarekat Islam, pun begitu SI Merah membuat tandingan dengan mendirikan "Sarekat Rakyat"

Inilah sekelumit kisah pahit dari hancurnya sebuah Jamaah/Organisasi/Perkumpulan dll hanya karena salah menempatkan orang.

Rabu, 25 Desember 2013

Dari 'Wahabi" Menjadi Salafi (Kisah Mu'alaf)

tentang salafi wahabi
Wahabi istilah yang digunakan oleh musuh-musuh aktivis salafi, mereka menisbatkan wahabi dengan syaikh Muhamad bin Abdul Wahab. Kalau dipikir nama asli beliau adalah Muhammad , dan Abdul Wahab adalah Ayah beliau.

Jika ingin menisbatkan kepada Muhammad bin Abdul Wahab seharusnya Muhammadi, Kalau dinisbatkan kepada ayahnya menjadi Abdul Wahabi :) bener gak ya? hehehe

Kalau wahabi berarti diambil dari kata Wahab (Abdu: Hamba; Al-Wahab: Sifat Allah Dzat Yang Maha Pemberi)

Atau jangan-jangan Wahabi atau Wahabiyyah adalah nisbat kepada Salafi karena salah sasaran sebagaimana sebuah sekte KHOWARIJ ABADHIYYAH yang dicetuskan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al-Khariji Al-Abadhi, orang ini yg telah banyak menghapus Syari’at Islam, dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang menentangnya, Dia wafat pada tahun 197 H di kota Thorat di Afrika Utara.Penulis mengatakan bahwa firqoh ini dinamai dengan nama pendirinya,dikarenakan memunculkan banyak perubahan dan dan keyakinan dalam madzhabnya.mereka sangat membenci Ahlussunnah.” (Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil,seorang kebangsaan Francis)

Namanya juga perang ideologi, ketika kritik secara bahasa terbantahkan akhirnya musuh "salafi" mencari jalan pintas dengan mengorek-ngorek hadis fitnah Nejed dengan takwil-takwil sesuai dengan keinginan. Tapi alhamdulillah ada ustadz yang membantahnya lihat: Muhammad bin Abdul Wahhab: Fitnah Nejed?

Jujur kalau saya kopas disini mungkin terlalu panjang, mungkin yang mau membaca silahkan lihat pada tautan diatas. Tapi dari link artikel diatas saya melihat ada catatan penting di komentar yang membuat saya terharu, yaitu pencariah hidayah seorang muamalaf yang kenal salafi melalui fitnah WAHABI. Monggo yang mau membaca kisahnya silahkan simak:

Salam A’likum warrahmatullahi wabarokahtu… 
Ana seorang Muallaf dari Medan dan selama ini berusaha mencari manhaj yang lurus yang sesuai dengan AlQuran dan As-Sunnah.Ana dahulu mengucapkan kalimat 2 syahadat di sebuah Masjid Muhammadiyah di jln.Gaperta Ujung Medan pada tahun 1999 dan menjalani khitan seminggu sesudahnya. Kemudian ana mendapatkan seorang guru agama dari golongan Muhammadiyah juga yang mengajarkan bagaimana cara berwudhu’,membaca AlQuran,Shalat dsb selama kurang lebih setahun.Dan selanjutnya ana belajar secara otodidak. 
Dalam pengajaran beliau,ana diberitahu dan diwanti-wanti bahwa Islam itu sebenarnya terdiri dari banyak golongan ( hal ini sangat membingungkan ana,karena ana masuk Islam sepenuhnya karena hanya membaca AlQuran saja ).Ana kemudian disodori buku-buku karangan golongan Muhammadiyah yang menjelaskan bagaimana Islam itu sudah dipenuhi oleh berbagai kesyirikan dan kemusyrikan yang dilakukan oleh golongan-golongan lainnya. 
Setelah selesai mempelajari,ana pun kemudian berkeliling ke semua Masjid di kota Medan,dan alangkah kagetnya melihat betapa berbedanya shalat dan dzikirnya antara Muhammadiyah dengan golongan lainnya walaupun atas satu nama agama.Ana berfikir,”ini tidak jauh berbeda dengan agama ana sebelumnya yakni Nasrani.” Tapi ana tidak mau su’udzhon terlebih dahulu tanpa ada ilmu. Ana kemudian rajin membeli buku-buku agama baik itu karangan NU,Muhammadiyah,dan golongan lainnya yang terlalu panjang disebutkan disini. Semua berhujjah dengan dalil dan saling menyalahkan satu dengan lainnya dan terkadang banyak pula yang dibumbui kata “Sudah Kafir” atau “Laknatullah”. Terus terang,hati ana gundah gulana melihat pertikaian di tubuh muslimin. Ana berfikir,”ini mah sama saja kayak dulu lagi melihat pertikaian antara Katolik dan Protestan.Ah,keluar dari lubang buaya malah masuk ke mulut harimau” karena sangkin kecewanya. 
Pencarian ana terus berlanjut,dan masuk ke berbagai perkumpulan baik itu sufi,tariqat,jemaah tabligh dan bahkan syiah ( Ahmadiyah ana terang2an menolak memasukinya) walaupun hanya sebentar dan melihat-lihat saja.Tetapi ana tetap tidak puas dan melanjutkan pencarian,sehingga pada tahun 2005-2006 ana terjun ke dalam dunia maya dan mencari lebih lanjut tulisan-tulisan Syaikh-Syaikh dan Ulama dari Arab lainnya yang belum sempat ana baca atau tidak mampu ana beli karena kemampuan ekonomi ana yang tidak seberapa. Disitu kemudian ana juga terjun dalam perdebatan melawan fitnah kaum kuffar yang selalu merongrong Islam,yaitu situs FFI,dan ana ikut andil dalam situs tandingannya yakni AFFI dan membantu menjawab sesuai dengan kemampuan ilmu agama ana sekarang maupun agama sebelumnya. Namun lagi-lagi ana harus menelan pil pahit melihat pertikaian antara sesama kaum muslimin di situ yang malahan membahas masalah manhaj siapa yang paling benar dan akhirnya malah melupakan tugas utama mereka,yakni melawan fitnah keji kaum kafir.Akhirnya ana sempat vakum beberapa bulan karena kecewa berat. 
Kemudian pada tahun 2011 awal ini,ana melihat berbagai situs-situs yang menceritakan “kejamnya” wahabi dsb. Ana tergelitik untuk membuka situs-situs tersebut dan alangkah kagetnya melihat kata-kata didalamnya yang tidak jauh berbeda dengan kata-kata milik seorang syiah.Sama sekali tidak mencerminkan postingan seorang muslim yang terpelajar maupun beradab. Waktu itu ana sama sekali belum tahu apa itu Wahabi dan apa itu Salafy dan apa itu Salafush Sholeh. Sebelumnya ana sering dengar dari tetangga kanan-kiri pada tahun 2004-2005 bahwa salafy itu terkucil,sesat-menyesatkan,tidak mau bergaul dengan yang lain,tidak mau sholat di Masjid lain selain Masjid salafy,seringkali shalat di hutan sendirian,keras wataknya,menganggap najis umat muslim di luar salafy.Waktu itu ana juga sempat tinggal berdekatan dengan kelompok Salafy ini,namun karena termakan fitnah tetangga,saya menutup mata atas kegiatan mereka dan tidak mau bertanya apa itu Salafy ke sumbernya langsung. Semoga Allah Azza Wa Jalla mengampuni dosa-dosa ana yang sudah sempat su’udzhon ke sesama muslim. 
Pada akhirnya,ana membuka-buka berbagai situs terpercaya yang membahas apa itu Wahabi dan manhaj salafush sholeh di situs eramuslim dan muslim.or.id .Alhamdulillah,banyak membuka mata ana. Banyak hal-hal yang telah ana lakukan atas nama ibadah selama ini ternyata semuanya adalah kesia-siaan. Betapa ana menyesal telah menganggap baik semua hal yang ana lakukan selama ini dan ternyata semuanya itu hanyalah bujukan syaithan untuk melemahkan aqidah ana.Hal-hal yang ana pandang baik ternyata tidak ada dalil dan hujjahnya sama sekali dalam nash-nash AlQuran dan As-Sunnah. 
Alhamdulillah,12 tahun pencarian ana berakhir dengan ditemukannya manhaj salafush sholeh ini. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala meridhoi dan menjaga manhaj ini bebas dari fitnah keji yang dilontarkan oleh kaum-kaum ahli bid’ah yang selama ini terbuai dan terlena oleh manisnya pemikiran mereka yang menganggap ini-itu baik padahal tidak ada dasarnya sama sekali dalam Islam. 
Inilah manhaj yang menjadi pegangan ana sekarang.Ana selalu berdalil menggunakan manhaj ini dan menggunakan fatwa-fatwa Al Lajnah Ad Daimah. Walaupun ada beberapa poin dari fatwanya yang ana tidak setuju,tapi ana maklum karena bagaimanapun juga Ulama adalah seorang manusia,yang tidak berlepas dari kesalahan.Ana juga selalu berusaha membela kalau-kalau ada yang berusaha memfitnah Syaikh Ibnu Taimiyah maupun Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan manhaj Salafush Sholeh. Ana selalu berusaha menggunakan dalil-dalil dari mereka yang walaupun sering kali diejek dan dicaci oleh ikhwan lainnya.InsyaAllah ana selalu akan istiqomah menjalankan syariat-syariat yang sudah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya tanpa dibumbui praktik-praktik bid’ah manapun walaupun itu harus dicerca oleh kawan-kawan ana sendiri. 
Bagi para pecinta ibadah,berhati-hatilah dalam meniti jalan yang lurus ini. Janganlah kalian terbuai sebagaimana kaum Nashara dan Yahudi melakukan praktik-praktik bid’ah yang tidak ada dasarnya dalam kitab mereka. Janganlah kita meniru langkah-langkah mereka sehingga mendatangkan laknat Allah atas diri kita. Sesungguhnya merekalah yang mendustakan Allah dan RasulNya. Berpegang teguhlah pada tali buhul Allah dan gigitlah kuat-kuat apa yang diberikan oleh Allah dan Rasul kepada kamu semua. Janganlah kita terperosok dalam jalan kehinaan yang sama seperti jalannya kaum fasik. 
Ana sendiri sudah berlepas diri dari belenggu jeratan mereka dan jangan sampai terjerumus untuk kedua kalinya. 
Sekian dari ana yang masih dalam tahap pembelajaran Dien ini,Bagi yang ingin berkorespodensi,silahkan meng-add : yokuzaaffi@yahoo.com di Facebook. 
Wassalam, 
Muhammad Yusuf/Huang Sing Han
Medan-Sumut

Kamis, 19 Desember 2013

Istri Selingkuh Saat Suami Bekerja, Petaka SMS dengan Lawan Jenis

Selingkuh Lewat SMS

istri selingkuh
Jika Istri Selingkuh
Kisah lama yang mau aku angkat lagi yang menurutku cukup menarik. Ini bermula dari reoni teman-teman SMP sekitar 3 tahun lalu. Sudah menjadi kebiasaan teman kalau tiap tahun kumpul-kumpul bareng waktu idul fitri.

Banyak cerita setelah kami lulus dari SMP banyak kisah untuk mengenang kembali masa-masa sotoy dan labilisasi umur, banyak curhat tentang keluarga dan pekerjaan masing-masing. Dan banyak lagi..

Ada kisah menarik dari temankiu,

Sebut saja namanya Romeo.. pria berkulit putih bersih dan berawakan gagah ini memang belum berumah tangga diantara kami. Kalem dan cool memang pembawaannya dari dulu ketika kami sama-sama di kelas.

Dia bercerita..

Namanya Mai teman sekelas kita [temanku satu kelas jg] ini sudah menikah, dan dikaruniai 2 orang anak. Suami Mai bekerja diluar kota, kadang pulang jenguk istrinya sebulan sekali. Nah.. suatu hari Mai ini dapat sms dari orang tidak dikenal, mai penasaran kepada pengirim kemudian menanyakan darimana dia dapat nomernya. dan SMSan pun berlanjut hingga mereka saling kenal.

Hubungan SMS merekapun berlanjut tanpa sepengetahuan suami mai. Bahkan mereka telpon-telponan baik malam hari atau siang hari...

Untuk mengakali rahasia hubungan mereka, nomer pria majhul tidak diberi nama agar suami tidak tahu tentunya

Suatu hari ketika suaminya dirumah... sang suami membuka HP mai. Dan betapa kagetnya dia ternyata mendapati SMS "syur" dan romantis dari nomer yg tidak dikenal itu..

Meradanglah suaminya.... MARAH BESAR

Kemudian istrinya diintrogasi siapa yang SMS ini... istrinya tetap berkilah dan membuat alibi kalau sms itu cuma guyonan dari teman lamanya.

Suaminya tetap tidak percaya dan memaksa sang istri untuk jujur.

"Benar mas, dia itu temanku satu kelas dulu.." alibi Mai

Kemarahan suami sudah memuncak, dia tetap tidak percaya..

"kamu jangan bohonggg.... siapa teman satu kelasmu itu!!!"

"Benar mas..." Mai terlihat takut terbongkar kedoknya

"Kalau benar...siapa namanya dan dimana alamatnya... kita akan temui lansung dia!!" Introgasi suaminya

".............. Namanya romeo teman satu kelas di SMP dulu rumahnya di We**" jawab Mai

Karena ini memastikn jawaban istrinya itu, suami Mai seketika mengajak untuk bertemu dengan romeo. dan meng-clearkan masalah ini..

Kejadian ini pas malam hari dan hujan pula... mereka meluncur kerumah Romeo menyusuri jalanan yang basah yang mengguyur panasnya kecamuk hati suami Mai...

Tibalah di rumah Romeo..

Dan suaminya mengetok pintu rumah itu...

Kaget bukan kepalang romeo ketika buka pintu... hampir saja dia lupa wajah Mai teman lamanya itu...

"Mai.................... benarkah kau mai?...loh tumben, ada apa ini kok malam-malam datang kerumah?" Romeo penasaran dan wajah tanda tanya.

Setelah dipersilahkan duduk, kemudian sang suami menceritakan permasalah yang dihadapinya itu..

"Astaghfirullah....sumpah itu bukan saya, mungkin namanya saja yg sama.. saya semenjak lulus dari SMP baru kali ini bertemu dengan Mai..." Romeo kaget dan menyanggah..

Mai tampak tertunduk....

"Gini saja mas... kalau tidak percaya coba cocokkan nomer HP sms pengirim dengan HP saya.." Tambah romeo untuk memastikan kalau dirinya bukan pelakunya.

Benar saja... kedua nomer memang berbeda...

Setelah lama di rumah romeo akhirnya mereka pamit pulang...
=

Seketika teman-teman reoni yang mendengar cerita dari Romeo ini geleng-geleng kepala.... ehmmm

Diantara kami nylethuk "jangan-jangan pelakunya kamu..."wkwkwkwkkw gelak tawa teman

"Janc*.....k kabeh " kelakar Romeo

wkwkkwkwkwk gemuruh tawa seisi ruangan..

Jumat, 18 Oktober 2013

Cerita Ngakak "TKI Menghajar Batu"

Kisah Kocak TKI Menghajar Batu


Seorang sopir yang baru beberapa hari datang ke Arab ditest oleh majikannya untuk membawa mobil sambil ditunjukan jalan-jalan di sekitar rumah. Kata-kata sederhana pun juga sambil diajarkan seperti ‘yamin’ (kanan) dan ‘yasar’ (kiri). Setelah beberapa saat mengemudi lancar-lancar saja, sang majikan meminta si sopir, Cak Suro (bukan nama sebenarnya) untuk melaju lebih cepat, “Yallaa sur’ah sur’ah suwaiyaa (ayo, cepat-cepat sedikit).” Kata majikan dengan keras. Dan suara keras adalah hal biasa di Arab, namun hal ini membuat gugup Cak Suro yang baru beberapa hari datang ke Arab.

Digenjot mobil melaju di jalan-jalan perumahan dengan laju. Tiba-tiba si majikan berteriak- teriak lagi, “HAJAR , HAJAR..!! HAJAR!!”, sambil menunjuk gundukan jalan atau batu yang memang biasanya ada di jalanan sekitar perumahan untuk membuat pengendara mobil sedikit memelankan laju mobilnya.

Mendengar teriakan “HAJAR , HAJAR..!! HAJAR!!”, dari sang majikan, Cak Suro yang sudah dalam kondisi gugup spontan otaknya reflek menterjemahkan dengan salah kata-kata si majikan tadi. Tambah digenjotnyalah mobil tersebut dan betul-betul mengHAJAR gundukan jalan yang ditunjuk-tunjuk majikannya.. Hasilnya mobil tersebut terbang sesaat dan mendarat dengan sedikit tak terkendali.

Setelah berhasil menguasai kendaraannya dan berhenti, marah-marahlah si majikan sambil memaki-maki dengan bahasa arab yang belum dimengerti oleh Cak Suro.

Namun Cak Suro adalah seorang sopir yang tekun dan manut sehingga majikannya pun menyenanginya. Setelah kurang lebih setahun bekerja dan bisa sedikit-sedikit bahasa arab, Cak Suro menceriterakan kesalahpahaman saat dirinya baru datang dan baru disuruh membawa mobil sama majikannya pertama kali dulu. Bahwa “Hajar” yang dimaksud oleh majikan adalah bahasa arab yang artinya batu atau gundukan. Namun saking gugupnya dan respon dari sifat penurut Cak Suro membuat dia tak kuasa menolak untuk betul-betul mengHajar batu tersebut dengan mobil yang disopirinya. Si majikan pun tertawa.

[By: Abu Hanif dimuat di Majalah An Nur Riyadh] (*)

Pelajaran Penting: Sebelum ke negeri orang -apalagi ke Arab- kuasailah bahasa mereka dengan benar biar tidak jadi menghajar batu.

Via: ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Kamis, 17 Oktober 2013

Cerita Hikmah Wanita: Gara-Gara Menghina, Akhirnya Menabrak Sapi

kisah hikmah
Ilustrasi gambar sapi
Saya tdk tahu, ini kisah nyata ato anekdot, saya terjemah dari facebook dakwah قصص وروايات من باب العبره والاستفاده . Menarik utk diambil pelajaran. ini kisahnya

Seorang gadis mengendarai mobilnya di jalanan. Dari arah yg berlawanan ada mobil yg dikendarai oleh seorg laki-laki. Tampak laki-laki itu membuka jendela mobilnya saat berpapasan dgn mobil yg dikendarai sang gadis. Si gadis pun membuka jendela mobilnya pula, barangkali ada yg ingin dsampaikan laki-laki itu.
Ternyata laki-laki itu berteriak..”Hei sapi...sapi...sapi..!” Merasa diledek, wanita itu membalasnya dgn spontan, “himar (keledai!)...himar...himar!”

Si wanita tersenyum puas krn bisa membalasnya dengan sigap.

Akan tetapi.....

braaakkk...! tiba-tiba mobil si wanita itu menubruk seekor sapi yg berada di tengah jalan.

Inilah kehidupan, tak semua ucapan orang lain bisa kita pahami dengan baik, maksud laki-laki itu ingin memberi peringatan bhw ada sapi yg berada di tengah jalan, namun dipahami si gadis sebagai olokan.

Hikmah apa yg bisa kita petik sebagai pelajaran?

Artikel ini saya copas dari Ustadz Abu Umar Abdillah

Rabu, 18 September 2013

Hewan Qurban Sang Nenek

Qurban Sang Nenek


Disebuah kampung yang jauh dari perkotaan, kami mendapat tugas dari ustadz untuk membina masyarakat tepatnya di daerah Pati, Jawa Tengah. Medan berbukit dengan pohon-pohon jati membuat suasana sepi, dan tampak kebersahajaan penduduk desa membuat kami tertegun betapa mereka seperti keluarga sendiri.

Waktu itu bertepatan bulan Dzulhijjah, seperti biasa bagi penduduk yang mampu menyembelih hewan qurban. Tapi ada kejadian unik dan tidak biasa dari salah satu shohibul qurban. Ternyata ada seorang nenek-nenek yang setiap tahun tanpa absen berqurban.

Begitu takjubnya kami, ternyata orang tua tersebut hanya seorang pencari daun jati. Ya... beliau hanya pemetik daun pisang dan menjualnya ke warung atau kepasar. Hidupnya pas-pasan dan pendapatannya dari hasil menjual daun jati tidak menentu.

Kadang 1 gulung hanya dihargai 5-10ribuan itupun kalau laku, kalau tidak... ya tidak ada pemasukan.

Rasa penasaran terhadap nenek tersebut membuat kami mencari tahu apa rahasianya beliau bisa berqurban tiap tahun..

Ternyata, setahun sebelum qurban beliau menyisihkan sebagian penjualan daun pisang dan benar saja ketika menjelang qurban beliau pasti mampu membeli kambing untuk berkorban. Subhanallah...

[Kisah ini diceritakan oleh ustadz Ihsan Al-Faruq]

hewan qurban sang nenek

===========

Apakah Anda tidak malu dengan kisah sang nenek tersebut?

Ayoo Kirim Qurban untuk Suriah, Disana banyak yang membutuhkan

KonsultasiSyariah.com membuka program pengiriman hewan qurban di Suriah. Informasi terakhir dari para relawan, banyak kaum muslimin, korban kekejaman orang syiah, yang menjadi penduduk daerah konflik yang kekurangan daging dan lama tidak makan daging.

Di saat kaum muslimin indonesia bisa merasakan nikmatnya sate di tanah air, kita berharap, semoga dengan penyaluran qurban ini, kaum muslimin Suriah bisa merasakan yang sama, atau setidaknya mengurangi derita dan duka mereka

Donasi untuk PROGRAM QURBAN di Suriah dapat anda salurkan melalui:

- BNI Syariah 0221319083 a.n Fajar Septiadi
- Bank Muamalat 5350001842 a.n Afzal Moezakkiy Bahrun
- Bank Central Asia 8610197257 a.n. Hendri Syahrial, SE
- Bank Rakyat Indonesia 023601003260531 a.n. Fajar Septiadi

- Konfirmasi terkait donasi Suriah melalui email: finance@yufid.org atau via SMS ke 0878 82 888 727

http://www.konsultasisyariah.com/kirim-qurban-untuk-suriah/

Sumber: https://www.facebook.com/moslem.channel

Senin, 15 Juli 2013

Kisah Cinta Romantis tapi Palsu

cerita kisah cinta romantis

Sepasang suami istri rekreasi bersama di kebun binatang. Keduanya melihat ada kera jantan yg asyik bercengkerama dgn pasangannya. Melihat pemandangan itu sang istri pun bergumam,

“hmm...alangkah romantisnya kisah cinta mereka.”

Di sudut yg lain, dilihatnya ada seekor singa jantan yang duduk membisu, sementara singa betina tergolek agak jauh darinya. Sang istripun berkata, “hmmm...Alangkah hambarnya kisah cinta mereka.”

Suaminya berkata, “Istriku....saya akan coba melempar botol kosong ini ke arah singa betina, mari kita lihat apa yg akan terjadi.”

Maka tatkala botol itu dilempar ke arah singa betina, dgn sigap singa jantan meraung dan siaga membela singa betina.

Suami: sekarang, mari kita coba lemparkan botol kosong ke arah kera betina, kita lihat apa yg akan dilakukan oleh si kera jantan.
Ketika botol itu dilempar, si kera jantan langsung lari menghindar, menjauhi kera betina yg dilempar botol kosong.
Kalau begitu, mana yg lbh romantis ?

Jangan terkecoh oleh romantisnya pasangan saat tampil di TV, di jalan2 dan di tempat2 hiburan, karena kemesraan suami istri tdk untuk dipertontonkan di jalanan. [Abu Umar]

Diambil dari facebook: https://www.facebook.com/moslem.channel

Selasa, 30 April 2013

Kisah Haru: Engkau Akan Menangis Jika Membacanya, Insya Allah

JUDUL: CERITA SEBUAH KATA

ayah dan anak

Oleh: Akhyar Hadi, Mahasiswa Univ. Islam Madinah angkatan 1433 H
Juara I Kategori: Lomba Karya Tulis Bebas Pekilo UIM

Lelaki itu seperti lelaki tua biasa. Biasanya lelaki tua sepertinya ditemui di lambung Masjid Nabawi, sebagai jamaah umroh akibat terlalu lama menunggu giliran haji. Atau lelaki tua sepertinya ada di sawah, kelelahan mencangkul walau matahari baru naik setengah. Bisa juga lelaki sepertinya kita temui sedang duduk-duduk di teras sambil menghias pot bunga, membersihkan rumput, dan menanam pohon kecil di pekarangan. Atau, kalau kita menyaksikan berita banjir di TVRI, lelaki seperti ini biasanya diwawancarai karena terlambat mendapat jatah bantuan mie instan. Dia jenis lelaki yang mudah didapati. Lelaki tua yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Diusianya yang sudah memasuki kepala enam, wajar jika seluruh rambut di kepalanya memutih. Tiap-tiap helai itu adalah gambaran masalah yang dilaluinya, guratan-guratan kerut di wajahnya adalah lambang goresan waktu yang jemawa. Tangan kanan dan kirinya tak lagi sekuat dulu. Bahunya yang dulu kekar, kini mulai kurus dan membungkuk. Ototnya lemah. Kadang dia beristighfar sambil menarik napas panjang ketika lelah. Tapi kawan, matanya istimewa. Di situlah pusat gravitasi pesona dirinya. Matanya itu, sang jendela hati, adalah layar yang mempertontonkan jiwanya yang tak pernah kosong. Seseorang yang biasa kucium tangannya. Ayah, kupanggil ia.

Ayahku adalah ayah pada umumnya. Ayah yang ketika aku kecil, menyediakan tempat duduk istimewa untukku saat karnaval kota malam Idul Fitri. Dia mendudukkanku di bahunya, digenggamnya erat kakiku agar nyaman saat duduk. Tak ia pedulikan karnaval itu. Karena tawaku adalah karnaval baginya. Bahagiaku adalah iringan semangat hidupnya.

Aku juga masih kecil saat itu. Ayah hanya seorang supir truk batubara di pedalaman Kalimantan. Bekerja selepas Isya lalu pulang sehabis Shubuh. Ayah adalah lelaki pendiam, tak banyak bicara. Tak suka memukul. Tak pandai ia marah. Walau begitu, ayah adalah tolak ukur tindakan bagiku, contoh hidup tingkah laku. Tak pernah ia cerewet menyuruhku salat. Ia hanya mengerjakan, lalu mengajakku bersamanya. Sesederhana itu, Kawan. Ia juga sangat ingin aku sering-sering membaca Al-Quran, walau tak pernah ia menyuruh. Walau tak pernah ia mencontohkan cara membaca Al-Quran. Kau tahu kenapa, Kawan? Karena kutahu, ia pun terbata membacanya.

Biasanya aku menghabiskan waktu bersama ayahku tiap akhir pekan. Aku senang berada di bak truk besarnya. Beliau duduk bersamaku sambil bercerita. Tentang para pahlawan, tentang panorama-panorama, bintang dan planet-planetnya, tentang semesta, juga tentang kota-kota yang pernah disinggahinya. Dia senang bercerita tentang banyak kota, dan aku tahu kota impiannya adalah Mekkah dan Madinah. Jauh, jauh di lubuk hatinya ia mendambakan kota itu melebihi kota manapun di dunia. Walau dia tak mengatakannya langsung, tapi aku tahu dengan sendirinya, seolah ada bahasa lain selain bahasa lisan, bahasa yang dijalin antara seorang anak dan ayahnya dari hati ke hati.

“Ayah ingin sekali pergi haji.”

Begitu kiranya jika kata itu diucapkan.

Aku masih muda, sedang ayah menua. Semenjak krisis ekonomi, harga batubara anjlok. Ayah dengan setumpuk masalah keuangan yang menimpanya bangkrut. Truk besar tua kami mogok. Rusak. Sekarat. Seolah bosan terlalu lama memikul bongkahan-bongkahan batu hitam langka. Tak bisa lagi diperbaiki karena tak ada biaya. Ayah tak bisa lagi bekerja. Ayah menganggur bertahun-tahun lamanya.

Ayah pun sekarang menikmati masa tuanya dengan belajar banyak dari agama. Sering pergi ke kajian-kajian ilmiah. Rajin ia membaca. Berlama-lama dengan kumpulan buku dan majalahnya. Jiwa tua itu masih sangat antusias. Sesuatu yang tak ia dapat selagi muda. Matanya, iya matanya, selalu membulat ketika menjelaskan kalau bid’ah itu semuanya sesat. Walau kata-katanya sedikit, aku dibuatnya percaya kalau semua kesesatan itu tempatnya di neraka. Dia juga orang paling mengamati tiap senti celana. Dijaganya agar aku tak menjulurkan pakaian melebihi batasnya. Ayah sangat senang pergi ke masjid. Tak pernah absen ia ke sana. Tubuh tuanya itu mendadak kuat jika berjalan sebelum waktu Shubuh yang dingin, dan jika ia pergi ke masjid sebelum Maghrib, maka ia akan datang ke rumah setelah Isya. Dengan kaki-kaki tuanya. Hampir satu kilometer jauhnya.

Setelah lulus sekolah menengah atas di sebuah kota di Banjarmasin, aku merantau belajar menjadi mekanik handphone dan komputer di tempat pamanku, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Setelah setahun di sana dan merasa punya skill, aku kembali ke Banjarmasin dengan tujuan bisa kuliah sambil membuka sebuah toko service handphone dan komputer. Aku mulai membeli alat-alat service, juga iklan di sana-sini. Mendadak, aku terkenal dengan julukan tukang handphone. Aku menjalankan bisnis ini pelan-pelan, dari pintu ke pintu. Mulai dari keluarga sampai orang-orang di sekitarku. Pelangganku pun bermacam-macam, Kawan. Dari tukang kambing, pedagang asongan, pengangguran, ustadz, ibu rumah tangga, sampai mahasiswa. Kau tahu, Kawan, kenapa mereka senang aku memperbaiki telepon tangan mereka? Jawabannya adalah karena mereka bisa menentukan garansi semau mereka.

Namun hari itu, Kawan, hari itu adalah hari aku bersama ayah pergi ke sebuah majelis taklim, di mana setelah memberikan tausiyah, seorang ustadz menawarkan beasiswa bagi lulusan SMA yang ingin menghafal Al-Quran di Bogor. Ayah menunduk. Didengarnya iklan itu dengan seksama. Aku melihat matanya.

“Ayo kita pulang, Yar.”

Mata teduhnya tak bisa mengecohku. Sembilan belas tahun menjadi anaknya tentu aku mengerti maksudnya.
Ia ingin Aku lebih baik darinya. Bisa membaca Al-Quran dengan sempurna. Tak seperti dirinya yang terbata.

Namun tak bisa ia meminta. Ia masih tak banyak bicara.

“Saya mendaftar beasiswa itu, Yah. Kalau diterima Saya langsung berangkat ke Bogor.”

Kulihat matanya membulat. Wajahnya berseri seketika.Walau tanpa kata, namun ada senyum di sana. Bagiku, melihatnya tersenyum adalah sebuah harta.

...

Dan akhirnya aku benar-benar mendapatkan beasiswa itu. Walau aku tahu, aku sebenarnya tidak bisa membaca Al-Quran dengan baik, setidaknya aku akan berusaha. Setidaknya aku akan belajar untuk membuatnya bangga. Aku ingin mengajarinya, membaca Al-Quran bersamanya. Walau aku sadar, Aku hanya seorang tukang service handphone. Tapi Kawan, bukankah Syaikh Albani yang nama beliau sering kujumpai di buku dan majalah ayahku juga pernah menjadi seorang mekanik jam?

Hari itu aku meninggalkannya merantau lagi ke pulau Jawa. Setelah mencium tangannya, aku memeluknya. Hangat sekali peluknya, seperti selimut bagi seorang gelandangan kota Malang yang kedinginan. Jam dua malam.

“Hati-hati, Yar.”

Ia masih tak banyak berkata. Namun pelukannya itu bermakna. Nasihatnya mengandung harapan besar. Harapan agar anaknya bernasib lebih baik darinya. Dan begitulah seorang ayah seharusnya.

Aku merantau, menuju pulau Jawa. Tak muluk aku ingin jadi orang yang hafal Al-Quran, bagiku bisa membaca Al-Quran dengan baik saja sudah lebih dari cukup. Mungkin bisa menjadi imam di kampung saat tarawih dengan ayahku menjadi makmum saja, aku sudah sangat bahagia. Karena aku telah berjanji membuatnya bangga. Tapi karena Allah, tetap menjadi niat yang utama.

Musim-musim berganti, setiap tahun aku pulang sekali. Mengunjungi ayah yang kurindui setiap hari. Ayahku adalah anak keenam dari empat belas bersaudara. Semuanya kaya raya kecuali dia, semua sudah naik haji kecuali dia.

Kini, setelah ia tak lagi memiliki perkerjaan, harapannya untuk naik haji hilang pelan-pelan. Namun bukan ayah namanya jika kehilangan semangatnya, dengan sedikit uangnya ia ikut mencicil TV kabel berlangganan, yang mana dibayar urunan beberapa keluarga dalam satu perumahan. Dengan TV tabung tahun 1998, dicarinya channel Mekkah dan Madinah. Di saat ia tidak berada di masjid, maka acara dua stasiun TV Arab Saudi itulah teman kesukaannya. Ia senang memonton sambil bersandar pada sebuah kursi. Jika ia bosan dengan siaran di Mekkah, maka digantinya ke siaran stasiun Madinah, jika bosan lagi, maka akan kembali ke stasiun semula. Terus berpindah seperti itu. Layaknya metromini jurusan Blok M-Pasar Minggu yang tak singgah ke terminal lain. Jika si tukang kameramen mengambil gambar Masjid Nabawi, lalu menyorot karpet hijau antara mimbar dan makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka bibirnya bergerak, seolah ia sedang meminta, berharap agar doanya diterima. Lain lagi jika sang kameramen menyorot ka’bah, maka ayah bangun dari sandarannya, dipasangnya kacamatanya agar tak samar pandangannya, seolah ia membayangkan dirinya berada di sana lalu mengitari rumah tua itu dengan bahagianya. Dipandangnya ka’bah dan beberapa bagian Masjidil Harom dengan haru, lalu diliriknya wajahku, seolah berkata,

“Kau lihat, Yar.. itu prosesi umroh. Lihat Yar! Lihat Baitullah, itu kiblat kita. Tahukah engkau, Anakku, Ayah sangat ingin ke sana. Ayah ingin mencium hajar aswad, Ayah ingin berlari-lari kecil seperti orang di Shafa dan Marwa itu, Yar.. Lihat! ”

Aku kelu. Pria pendiam ini juga menyimpan cita-citanya dalam diam.

Yang membuat pilu di hatiku semakin ngilu adalah ketika melihatnya di masjid bergaul dengan teman-teman seumurannya yang semuanya juga sudah pernah menunaikan ibadah haji. Adalah adat di kampung kami bahwa sebuah pemuliaan panggil memanggil dengan sebutan “haji”. Teman-temannya kadang memanggil ayah dengan sebutan haji hanya untuk memuliakan ayah yang umurnya terlihat lebih tua dari mereka. Aku mafhum, ayah kelu di hatinya. Ingin ia seperti teman-temannya. Panggilan itu hanya fatamorgana untuknya. Seperti melihat air di aspal nun jauh, semu, tak ada apa-apa.

Pernah suatu hari ayah menolong seseorang di jalan. Orang itu berterima kasih sembari mendoakan,
“Terimakasih, Pak. Semoga Bapak cepat naik haji,” lirihnya.

Hari itu aku melihat ayahku tersenyum. Senyum itu, Kawan, senyum itu begitu dalam maknanya, untukku dan untuknya. Untuknya karena doa itu masuk ke hatinya lalu ia berharap agar di-ijabah Tuhan pemilik timur dan barat. Untukku, karena aku ingin sekali melihat ayahku tersenyum lagi, seperti hari ini, aku ingin sekali ayah pergi ke rumah Allah. Tuhan pemilik arah kiblat.

Di tengah perantauanku di Pulau Jawa. Setelah berganti-ganti pondok tahfizh beberapa kali, aku bermukim di Jogja. Hari itu, aku menelpon ayah, mengabari bahwa ada tes penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Madinah. Pria tua itu terperanjat. Lalu membanjiriku dengan kata. Bercerita ia, tiap detail katanya adalah semangat dan intonasinya berupa letupan-letupan motivasi. Ia laksana merapi yang menumpahkan seluruh larva. Mencurahkan apa yang ia rasa. Ia berjanji akan memberiku apapun yang kuperlukan untuk bisa ikut tes perguruan tinggi yang ia katakan sebagai universitas Islam terbaik di dunia. Aku pun terperanjat. Ganjil sekali, seolah itu bukan ayahku yang pendiam.

Dan yang paling membuatku haru adalah ketika ia berkata, “Jangan pikirkan masalah uang, Nak, jangan pikirkan. Ayah yang akan mencarikan. Insya Allah.”

Terisak ia.

Kau tahu, Kawan, ayahku sekarang hanya supir ambulan sebuah masjid, itu pun terkadang. Tak setiap hari ia dapat uang. Ia berjanji akan menyisipkan namaku dalam setiap doanya, di sepertiga malamnya. Setiap harinya.

Hari itu dua puluh dua tahun usiaku. Berada di pedalaman Jawa selepas salat Shubuh. Aku bersama dua orang temanku, Isnan dan Mukhroji. Kami baru saja mengikuti tes masuk Universitas Islam Madinah di Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo. Kami memutuskan pulang setelah Shubuh. Nahas, pedalaman Ponorogo itu bukanlah Bogor yang angkot bisa lewat 24 jam. Kami menunggu sampai matahari meninggi. Berharap ada tumpangan transportasi.

Mukhroji cemas, ia harus secepatnya sampai ke Tegal karena ada suatu urusan keluarga. Berkali-kali pemuda tinggi ini menoleh ke sana-kemari berharap angkutan pedesaan segera datang. Sebentar duduk, ia bangkit berdiri, lalu menoleh lagi. Kawanku ini mungkin mendapat musykil yang berat dalam keluarganya. Lain lagi si Isnan, pemuda ramah asal Klaten ini ingin cepat pulang karena hampir setiap hari di sini ia memakan pecel khas Jawa Timur. Yang mana efek sampingnya adalah bosan, tak selera makan, dan sedikit mengganggu pencernaan. Pemuda terakhir, yaitu Aku, dengan alasan yang sama dengan Isnan. Karena kami membeli makanan secara patungan. Di pagi itu, kami menunggu dengan kumpulan rasa bosan.

Namun di ujung jalan, sayup-sayup bayangan kecil muncul, membesar dan kian dekat dengan tiga orang malang tadi. Bayangan itu menjadi nyata berupa sebuah mobil besar, gagah, dan nyaring bunyinya. Sebuah truk. Namun wajah dua temanku datar. Berbeda denganku yang sumringah tiap melihat sebuah truk. Kulambaikan tangan, girang aku. Berteriak-teriak seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat ayunan di sebuah taman bermain.

Truk itu berhenti. Aku membuka pintu. Seorang pria di sana. Tak terlalu muda. Kutaksir empat puluhan umurnya. Pandangan matanya, seolah sudah tahu sebelumnya bahwa tiga orang di pinggir jalan itu hanya akan merepotkannya. Wajahnya sangar. Mimiknya kasar. Otot-otot badannya besar. Ia mirip tukang pukul seorang pejabat yang baru saja dilantik menjadi bupati.

Namun semua itu mencair ketika aku menatap matanya. Seolah ia melihat sesuatu di wajahku. Wajah yang seolah bicara. Berbicara bahwa ayahku adalah supir truk seperti dirinya. Dia pun seolah mengerti apa yang kubahasakan lewat wajah. Mungkin ada bahasa yang kurasa hanya aku dan para supir-supir truk saja yang memahaminya. Atau mungkin juga karena wajahku memelas dengan sempurna.

“Naiklah!” Ia langsung ramah. Entah kemana si tukang pukul bupati ini menaruh mimik seram yang diperagakannya sebelumnya.

Isnan dan Mukhroji naik dan duduk disamping sang supir. Hanya bisa untuk dua orang tempat duduknya. Aku? Ah, Kawan, aku mencari tempat favoritku. Menaiki bak truk itu. Bak itu hanya persegi panjang dari besi dengan sisa-sisa pasir berhamburan, melayang dan berputar terbawa angin. Aku duduk di sana. Hening. Bergoyang-goyang di jalan pedesaan yang bergelombang. Aku melamun. Di sana seolah ada lorong waktu yang membawaku jauh. Jauh ke masa lalu. Ke masa kecilku. Bersama ayahku di sebuah bak truk. Aku melihat ia bercerita. Aku mendengar intonasi khasnya. Aku mendengar suara kecilku tertawa. Aku merasa tubuh kecilku digendongnya. Wajah mudanya masih kuingat dalam pikiranku. Sesekali ia bercerita sambil mengusap rambut ikalku. Aku terbuai fantasi. Indah sekali.

Lorong waktu itu lalu mengembalikanku ke dunia nyata. Aku sendiri di sini merindukannya. Dalam sebuah bak truk dengan sisa-sisa pasir di dalamnya. Mataku sakit diserang butiran-butiran pasir yang melayang dalam pusaran angin di bak. Tapi bukan itu alasanku untuk meneteskan air mata. Air itu jatuh karena aku rindu pada ayah. Rindu tak terkira.
...
Beberapa musim berganti dengan cepatnya. Banyak hal-hal yang tak pernah kita kira dan kita duga. Sebuah doa melesat ke langit dan dijawab oleh Tuhan Pemilik Semesta. Aku akhirnya diterima. Aku dapat beasiswa ke Madinah. Lagi-lagi aku merantau jauh meninggalkan seorang lelaki tua. Sebelum pergi aku memeluknya. Ia kembali menjadi dirinya yang tak banyak berkata. Tapi aku tahu, pelukan itu sudah mengatakan semuanya. Bahwa ia bangga. Ia bangga anaknya bisa ke kota impiannya. Kota yang sering ia ceritakan. Bahwa ia pun rela jika seandainya tak pernah bisa ke Madinah, asal anaknya bisa. Anaknya bisa lebih baik darinya. Bisa berangkat haji. Bisa salat dengan ganjaran ribuan kali. Lalu kudengar kata keluar dari mulutnya, pujian untuk Ilahi Robbi.

Hari ini, di mana aku berdiri, di kota yang mulia ini, adalah giliranku yang berusaha berbuat untuknya. Aku masuk dalam program persiapan bahasa, dua tahun lamanya, sebelum bisa kuliah di salah satu jurusan yang tersedia. Berada di sini adalah level terendah seorang mahasiswa. Aku di sini adalah gabungan antara kejahilan bahasa dan keberuntungan bisa berada di sini semakin lama.

Kau tahu, Kawan, Kau bisa saja merendahkanku karena hinanya aku di mata kalian, kita berbeda, Kawan. Aku masih memiliki ayah yang harus kubahagiakan. Tiap uang yang kuterima kusisihkan, tiap lantunan doa kuselipkan. Aku ingin pergi haji bersama ayahku. Aku ingin mengitari ka’bah bersamanya. Menuntunnya. Berlari kecil di sampingnya antara Shafa dan Marwa. Aku ingin membimbingnya. Aku ingin suatu hari ia melihatku berada di kampus kita, yang ia sangka terbaik di dunia. Aku ingin ia tahu kalau aku sudah bisa membaca Al-Quran di Masjid Nabawi. Aku ingin memanjatkan doa bersamanya di Raudhoh. Ingin kuceritakan ia tentang seluk beluk kota ini, kota impiannya. Seperti ia menceritakan padaku ketika aku kecil.
Kapankah itu? Entahlah, Kawan. Entahlah kapan. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum lagi. Tersenyum saat pergi haji.

Ayahku adalah lelaki tua seperti biasanya. Lelaki sepertinya bisa kita jumpai di mana saja. Tapi bagiku, ayah adalah lelaki istimewa. Aku bertahan di sini menunggunya. Menunggu keajaiban Tuhan untuknya. Akan tibakah saatnya?

Ini adalah cerita sederhana sebuah kata. Kata yang kita semua memilikinya. Entah kita masih memilikinya, atau telah tiada.

‘Ayah.’

Diceritakan kembali oleh ustadz Firanda Andirja, MA via Facebook

Kisah Hakim Adil dan Pencuri Miskin

Kisah Hakim Adil dan Pencuri Miskin
Gambar Ilustrasi
Telah beredar  kisah disalah satu propinsi Amerika seorang lelaki tua muncul dipengadilan karena didakwa mecuri sepotong roti. Dan orang tua tersebut telah mengakui perbuatannya dan tidak menyangkal apa yang dituduhkan oleh pengadilan dan dia mengatakan, "Aku terpaksa melakukannya karena lapar, dan aku hampir mati karenanya."

Kemudian hakim berkata kepadanya, "Kau tahu.. bahwa kau memang mencuri dan aku akan menjatuhi untukmu hukuman denda 10 dollar. Akan tetapi aku tahu kamu tidak memiliki uang 10 dollar karena kamu mencuri roti tersebut. Untuk itu aku akan tetap memberi hukuman untukmu."

Maka terdiamlah seluruh orang yang hadir dalam persidangan tersebut. Dan mereka menyaksikan hakim merogoh dan mengeluarkan uang 10 dollar dari sakunya dan menyerahkannya kepada pencuri tersebut untuk digunakan sebagai uang denda dari keputusan pengadilan.

Lalu berdirilah sang Hakim dan menatap kepada para hadirin dan dia menyeru, "Aku dakwa kepada kalian semua untuk membayar uang denda 10 dollar karena kalian hidup dikota dan membiarkan orang miskin kelaparan dan mencuri sepotong roti.

Maka pada ruang pengadilan tersebut terkumpulah uang sebanyak 480 dollar dan hakim menyerahkannya kepada pria tua tersebut.

Diantara pelajaran kisah diatas adalah kita harus mengaku satu orang yang adil bisa merubah pemikiran sebuah negara.

Wallahu a'lam

Diterjemahkan secara bebas dari m3rfaa.com oleh Gimun Gibrat

NB: Sebenarnya kisah ini menjadi perdebatan di dunia maya tentang kebenarannya, apalagi cerita si nenek tua dengan hakim di daerah lampung yang hampir mirip dengan kisah diatas.

berlepas dari benar tidak nya kisah diatas, penulis pribadi hanya mengambil hikmah yang ada, "Semoga di Indonesia ada hakim seperti kisah hayalan diatas" hehhehehe

Untuk jelasnya kisah hoax silahkan cek: 

1. http://insansains.wordpress.com/2012/02/08/hoax-nenek-curi-singkong-dan-hakim-hebat/

2. http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/08/fitnah-di-balik-kisah-inspiratif-nenek-pencuri-singkong-dan-hakim-hebat-433882.html

Selasa, 23 April 2013

Kisah Mujahidin: Jenazah Masih Utuh dan Tercium Bau Wangi

Allah memperlihatkan bukti, mereka sungguh berperang dengan orang Kafir.


Berita dari Mahad Darul Hadits Dammaj
kisah mujahidin
Sumber gambar: http://assalafy-alhaq.blogspot.com/

( Info By Phone dari teman ana Abu Fadhil dari anaknya Fadhil dan temannya Amin Banyuwangi)

Beberapa kali terjadi hujan deras di Darul Hadits Dammaj Yaman dan puncaknya terjadi pada sore hari Jumat tanggal 19 April 2013 hingga malam sabtu telah terjadi hujan lebat yang disertai es yang menyebabkan banir di Dammaj!

Akibat hujan yang deras tersebut menyebabkan beberapa rumah terendam banjir serta menyebabkan longsornya makam yang didalamnya dikebumikan 70an orang mujahidin yang dahulu pernah berperang melawan orang-orang Syiah.

Makam tersebut sebenarnya makam darurat yang terletak di tanah yg rendah bersebelahan dg perkampungan yg difungsikan pada saat perang dg syiah karena tidak memungkinkan pada saat itu memakamkan jenazah di pemakaman umum yg terbuka shg bisa menjadi sasaran tembak para syiah

Karena longsornya area makam dan menyebabkan terbukanya sebagian makam dan kebetulan ada dermawan yg mewakafkan tanahnya utk digunakan sbg makam maka syeikh Yahya Al Hajuri Pimpinan Mahad Darul Hadits Dammaj memutuskan untuk memindahkan jenazah orang-orang tersebut ke tempat pemakaman yang baru.

Berawal dari sinilah kebesaran Allah SWT dinampakkan kepada Hamba-Hamba-Nya. Kebanyakan jenazah yang ditemukan dalam keadaan utuh, bahkan seluruhnya.

Dimulailah pemindahan jenazah pada hari sabtu sekitar belasan jenazah hingga selesai hari senin.
Banyak perkara-perkara menakjubkan yang ditemukan ketika proses pemindahan jenazah. Sebagaimana yang telah kami sebutkan diatas bahwa jenazah mujahidin dalam kondisi utuh, padahal mereka telah meninggal 1,5 (satu setengah) tahun yang lalu.

Ada jenazah seorang ikhwan yang berasal dari Francis bernama sofyan baju yang dia kenakan masih dalam keadaan utuh, bahkan kain kafan, bulu kaki dan jenggotnya juga masih utuh. Subhaanallaah!

Ada juga jenazah seorang ikhwan dari Iraq tercium semerbak harum dari jasadnya, subhaanalloh!

Ada juga seorang jenazah yang ketika dipindahkan, darah masih menetes dari luka ditubuhnya sehingga seorang wartawan mengambil tisu untuk menyeka tetesan darah tersebut sebagai bukti karena dia tidak diperkenankan mengambil foto ataupun video, Subhaanalloh!

Ada juga jenazah seorang ikhwan, dimana sebelum wafatnya ia mengalami banyak penyiksaan yang dilakukan oleh syiah hingga badannya hitam kotor dan rusak namun tatkala jenazahnya dipindahkan dalam keadaan bersih yang tertinggal hanya luka-lukanya. Subhaanallaah!

Demikian juga dengan jenazah 5 balita dan 2 wanita yang merupakan anak-anak dan istri ikhwan, pun mereka masih dalam keadaan utuh! Bahkan seorang wanita lagi hamil masih dalam keadan utuh dengan kehamilannya, Subhaanallaah!

Fenomena yang menakjubkan ini mendorong banyak orang awan di sekitar Dammaj dan bahkan dari wilayah yang lain hingga ribuan datang berbondong-bondong melihat kekuasaan Allah SWT yang ditunjukkan kepada manusia secara keseluruhan. Hanya saja karena penggunaan video dan kamera tidak diperbolehkan di tempat itu menjadikan tidak adanya dokumen yang otentik seperti foto dan video.

Peristiwa ini pula yang mendorong Syaikh Ahmad yang mengimamami Sholat magrib membaca surat Al A’raf sampai selesai hingga hampir mendekati waktu isya. Subhaanallaah!

Pemindahan jenazah 70 mujahidin 2 wanita dan 5 balita tersebut dilakukan selama 3 hari mulai sabtu, ahad dan senin dilakukan setelah mempertimbangkan bahwa lokasi makam terletak di daerah yg rendah yang bila terjadi hujan deras lagi akan menyebakan area makam longsor dan lokasinya juga terlalu dekat dengan pemukiman penduduk

Pemindahan jenazah dilakukan dengan mobil dan jalan kaki, tidak semua jenazah dibuka dan diperlihatkan kepada yang datang menyaksikan tapi hanya beberapa yang kebetulan dipindah dengan jalan kaki dan warga yang menyaksikan ingin melihat akhirnya dibuka dan diperlihatkan.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa mereka dan kita, semoga Allah SWT merahmati mereka dan kita, dan semoga kita dipertemukan dengan mereka di dalam surga-Nya, amin!

Wallohu ‘alam

Sumber FB: Tasnedi Bin Taslim

Selasa, 26 Maret 2013

Kisah Penuh Hikmah: Mengapa Bukan Ayah saja yang Meninggal?

Kisah anak yang menyadarkan kealpaan ayahnya...subhanallah!

kisah ayah dan anak

Ia masih bocah, masih duduk di bangku kelas 3 SD. Suatu kali ustadz di kelasnya memotivasi para siswa untuk menjaga shalat jamaah shubuh. Bagi si anak, Shubuh merupakan sesuatu yang sulit bagi sang bocah. Namun sang bocah telah bertekad untuk menjalankan shalat shubuh di masjid.

Lalu dengan cara bagaimana anak ini memulainya?

Dibangunkan ayah? ibu? dengan alarm?...bukan!

Sang anak nekat tak tidur semalaman lantaran takut bangun kesiangan. Semalaman anak begadang, hingga tatkala adzan berkumadang, iapun ingin segera keluar menuju masjid. Tapi...tatkala ia membuka pintu rumahnya. Suasana sangat gelap, pekat, sunyi, senyap...membuat nyalinya menjadi ciut.

Tahukah Anda, apa yang ia lakukan kemudian?

Tatkala itu, sang bocah mendengar langkah kaki kecil dan pelan, dengan diiringi suara tongkat memukul tanah...

Ya...ada kakek-kakek berjalan dengan tongkatnya. Sang bocah yakin, kakek itu sedang berjalan menuju masjid, maka ia mengikuti di belakangnya, tanpa sepengetahuan sang kakek.

Begitupula cara ia pulang dari masjid, bocah itu menjadikan itu sebagai kebiasaan
begadang malam, shalat shubuh mengikuti kakek-kakek. Dan ia tidur setelah shubuh hingga menjelang sekolah. Tak ada orang tuanya yang tahu, selain hanya melihat sang bocah lebih banyak tidur di siang hari daripada bermain. Dan ini dilakukan sang bocah agar bisa begadang malam.

Hingga suatu kali... Terdengar kabar olehnya, kakek-kakek itu meninggal. Sontak, si bocah menangis sesenggukan....

Sang ayah heran...”Mengapa kamu menangis, nak? Ia bukan kakekmu...bukan siapa-siapa kamu!”

Saat si ayah mengorek sebabnya, sang bocah justru berkata, “kenapa bukan ayah saja yang meninggal?”

“A’udzu billah..., kenapa kamu berbicara seperti itu?” kata sang ayah heran.

Si bocah berkata, “Mendingan ayah saja yang meninggal, karena ayah tidak pernah membangunkan aku shalat Shubuh, dan mengajakkku ke masjid. ..

Sementara kakek itu....setiap pagi saya bisa berjalan di belakangnya untuk shalat jamaah Shubuh.”

ALLAHU AKBAR! Menjadi kelu lidah sang ayah, hingga tak kuat menahan tangisnya.
Kata-kata anak tersebut mampu merubah sikap dan pandangan sang ayah, hingga membuat sang ayah sadar sebagai pendidik dari anaknya, dan lebih dari itu sebagai hamba dari Pencipta-Nya yg semestinya taat menjalankan perintah-Nya. Sang ayah rajin shalat berjamaah karena dakwah dari anaknya...

“Rabbana hablanaa min azwaajina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqiina imaama..”

Sumber: Mamlakah al-Qashash al-waaqi'iyyah

Diterjemahkan oleh: Ustadz Abu Umar Abdillah

Senin, 04 Maret 2013

Kisah Penunggu Sawah Penghasil Anak

Dulu ketika belum ada facebook, belum ada twitter, belum ada harlem shake (ane biasa bilang harem sex, maklum orang jawa), belum ada dandang sutel, belum ada yang belum ada. Suasana masih sepi, hiruk pikuk manusia tidak semeriah konser partai.

Waktu kanak-kanak main petak umpet menjadi pemenang karena banyaknya semak-semak belukar sehingga yang mbesangpun susah mendapatinya.

Itulah dulu yang menjadi pribadi luar biasa, pribadi yang punya malu, pribadi yang bisa menjaga kehormatan keluarga.

Masih ingat!! mitos-mitos orang tua yang mengatakan pada anaknya, "nak sudah maghrib, nanti sawanen dan di gondhol bethorokolo" Maka berhamburanlah anak-anak yang bermain dan mereka pulang, sementara para orang tua menutup pintu-pintu jendela.

Saya tidak percaya mithos itu tapi saya percaya makna yang terkandung didalamnya, dalam islam ketika matahari terbenam maka tanduk setan akan muncul, setan-setan bertebaran, maka jika anak kecil berkeliaran menjelang maghrib biasanya terkena 'ain. Ah sudah kita kembali ke asal permasalahan perbedaan dulu dan kini, manusia-manusia yang kehilangan tempat bermain.

Siapa yang tidak kenal dengan penunggu sawah, dialah pak tani yang begitu telaten menjaga sawahnya dari ganguan makluk-makhluk asing.

Pekerjaannya yang mulia menghidupi masyarakat kota walau dirinya dalam keadaan susah. Siang-malam tidak kenal lelah hingga dirinya rela dijiplak dari jerami untuk jadi orang-orangan sawah. Untuk apa? Untuk kita untuk Anda orang-orang kota..

Anda tahu? Pak tani sesungguhnya membutuhkan regenerasi profesi yang menjadi tulang punggung bangsa.
penunggu sawah penghasil anak
Sumber gambar orang sawah: http://id.wikipedia.org/wiki/Orang-orangan_sawah

Generasi  Baru Penunggu Sawah


Yang  benar saja, profesi penunggu sawah kini banyak diminati para remaja. Bahkan remaja rela berhujan-hujan, berpanas-panas, gatal-gatal terkena ulat menjadi profesi penunggu sawah modern.

Walau sedikit heran pak tani tua tidak mengajarinya tapi generasi ini begitu produktif dan kreatif menjalankan profesinya.

Cara kerja remaja profesi penunggu sawah ini tentu lebih modern dari yang dulu. Disamping menunggu sawah bisa melakukan aktivitas sampingan. Ya.. bisa facebook, harem sex, dandang sutel… enjoy ketika kerja.

Tapi tiba-tiba pak tani heran, kenapa sekarang marak orang berbondong memilih profesi ini? Apa untungnya dan apa hasilnya?

Selidik punya selidik ternyata panen yang dihasilkan dari dari sawah yang ditunggu oleh mereka bukanlah padi, bukanlah beras, bukan jagung, bukan bawang, dan bukan buah-buahan.

Terhenyaklah pak tani, ternyata profesi mereka menghasilkan anak diluar nikah.

Support: Kumpulan Puisi dan Kisah

Rabu, 26 Desember 2012

Merubah Nama Anak Menjadi Jelek

Berubahnya nama indah Abdulllah

memilih nama anak
Nama Kamu Siapa?
Teman bisa merubah sifat, maka cermatlah dalam bergaul.
Perhatikan sekecil apapun dalam bergaul, jangan sampai merubah apa yang menjadi indah.

Abdullah adalah nama pemberian nama dari orng tuanya, nama yang mengandung arti penghambaan terhadap Allah. Ini memang harapan orang tua agar anaknya kelak selalu mendekatkan diri kepada Allah...

Diantara usaha sang ibu adalah memasukkan Abdullah masuk TPA untuk berlajar agama...

Ya, Abdullah namanya... sudah dewasa

Tetapi disisi lain tanpa sepengetahuan ortunya dia bergaul dengan anak-anak begundal. Apa yang dia kerjakan ya? .... Abdullah kini mempunyai banyak teman di satu kampung maupun luar kampung..

Suatu hari datanglah teman dia dari luar kampung kerumahnya.

"Tok tok.. kulonuwun, salamungalaikum... tok tok.."

"Wangalaikum salam..." ternyata yang buka ibunya..

"Madosi sinten njih mas?"

"Doel Kempit enten bu?? kulo rencangenipun sekolah teng SMU "

"Doel Kempit sinten njih mas, teng riki mboten enten jenenge Doel Kempit.."

"Njih terosi alamate mriki bu, RT 112/RW 1 nomer 50..."

"Injih leres niki alamate, tapi mboten enten jenenge Doel Kempit.. " si ibu makin bingun nih..

"Njih bu matur suwun, menawi kulo klentu... Assalamu 'alaikum"

"Wangalaikum salam ".... si Ibu tutup pintu.

Lalu tiba-tiba Abdullah muncul dari belakang.

"Tamu siapa bu?"

"itu ada orang salah alamat.."

"Ohhh.. kok bisa bu, emang nyari siapa?"

"Ada orang nyari namanya Doel Kempit, tapi alamatnya bener sini...?"


"Lah buuk.. ornag itu nyari aku.. Doel Kempit itu aku bukkk!!"


Oh tidaaaakk ternyata nama Indah itu sudah berubah.

Bagaimana Nama Terbaik Anda?


Kisah diatas adalah penggalan dari banyaknya kejadian di masyarakat. Mungkin kamu pernah menjadi korban dari berubahnya nama itu.

Ambil contoh lagi nama populer yang sering berubah adalah Nama EKO, ayo.. kamu pasti tahu julukan dari nama ini?

Yap, kamu pasti nebak julukannya adalah binatang Ampibhi hehehehe..

Jika kita menjadi orang tua dan anak kita dipanggil seperti itu, bagaimana perasaan Anda?

Senin, 24 Desember 2012

Kisah Ta'aruf: Maaf Salah Orang

Waktu memang nge-trend istilah ta'aruf ane singkat menjadi tangarufatau istilah pacaran sesudah menikah. Gaya-gaya ala harokah menjangkiti sebagian temanku dalam masalah jodoh-jodohan.
salah wanita

Foto, salah satu wasilah yang terpenting dalam dunia tangaruf, dan tidak dikenal dalam dunia persilatan. Tapi menjadi platform antar murobbi.

"Ukht menikah yuk??"
"Sudah bilang ke murobbi ana belum akh?"
'Belum ukht.. hehhee"

Gedubrak.. murobbi seakan telah mengambil posisi wali nikah yang sah.

Tak ubahnya sahabatku MR. X yang ngebet ingin menikah tetapi bingung calonnnya siapa. Yap, alternatif adalah mencari sang Murobbi dengan channel kawat yang banyak,,

Akhirnya datanglah MR. X ini ke beliau, nego dan pilah pilih sedang berlanjut..

Seminggu dua minggu tak ada kabar.

=Mbah gimun tolong anter ane ke Bantul yuk.
- Ngapain akh?
= Ane kemarin tangaruf sama kawat melalui seseorang, tapi hanya diperlihatkan foto thok, penasaran ane?
- Yah, kan udah ada CV tuh..
= ya CV nya sih ada, katanya kawat tersebut begini dan begitu.. tapi ane sangsi banget deh.
- Lah ini mau datang ke rumahnya sudah sepengetahuan si Kawat dan si Murobbi?
= Belum

Akhirnya dengan senang hati ane mengantar MR X ke bantul meski nyasar-nyasar tidak tahu alamatnya, seharian penuh puter-puter. Eh tidak tahunya deket sama Kebun binatang. Nyesel banget sampai alun-alun bantul masih ngidul...

Sudah sampai alamat tanya-tanya tetangga-tetangga sebelah.....

Akhirnya pasti deh menuju pintu rumah si kawat, aku dipaksa menjadi juru bicara oleh MR. X kalau orng tuanya menemui.

Tapi qadarullah sebelum mengetuk pintu banyak suara gaduh, teriak-teriak, anak nangis g berhenti-henti.. dalam hati sudah mulai curiga. Bener g ya?

Kethuk-kethuk pintu tidak juga dibuka...

"Wa'alaikum salam, cari siapa mas?"

Kaget buka main yang buka seorang kawat berkulit hitam ber-kathok pendhek sepaha dengan pakaian semledot

"Apa benar ini rumah pak Paijo (nama samaran)?"

"Benar mas, tapi bapak sedang kerja..pulangnya nanti malam.. Eh silahkan masuk mas."

"Oh terima kasih mbak, kalau bapaknya enggak ada enggak apa-apa disini saja"

"Masnya dari mana? mungkin nanti saya sampaikan pesan ke beliau.."

"Mbak putrinya beliau yang bernama Eka (nama samaran) ya?"

"Iya betul.... loh kok mas tahu? masnya darimana ya?"

Kami semakin rikuh dengan penampilan si kawat itu dan semakin g enak aja lama-lama disini..

"eeh anu mbak.. kami pamit saja.."

"Loh kok... kan belum belum sampaikan perlunya apa mas?"

"Enggak mbak makasih, ntar saja datang kemari mau ketemu sama bapak ajah" (wah in boong banget dalm hati...

"Permisi mbak assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikum salam"

Kami cepat undur diri..
ane introgasi MR X

"bener tuh kawat yang ente maksud?"

"Ya itu yang dikasih tahu murobbi.."

"lah kok begitu?

"Ya g tahu di fothonya putih kok dan berjilbab..."

"Lah yang kta temui itu apa.."

"Asyem ane nyesel tangaruf lewat fotho..."

Ngaciiiiiiiiiiiir

http://irgimnur.blogspot.com/2012/12/kisah-taaruf-maaf-salah-orang.html